Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi 100 guru di Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Senin (13/4/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan ketangguhan sekolah dalam menghadapi risiko bencana di lingkungan pendidikan.
Sebanyak 20 sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) mengirimkan perwakilannya ke Aula SKB Kabupaten Bireuen untuk mengikuti pelatihan yang berlangsung hingga 18 April 2026. Program ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Wakil Bupati Bireuen, Razuardi, membuka secara resmi agenda tersebut dengan menekankan krusialnya aspek perlindungan di sektor pendidikan. Ia menyebut tenaga pendidik memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan siswa saat situasi darurat terjadi.
"Para guru tidak hanya harus mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga memastikan keselamatan peserta didik serta menjadi agen perubahan dalam menyebarluaskan edukasi kebencanaan kepada masyarakat," ujar Razuardi.
Pemerintah Kabupaten Bireuen menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui kebijakan dan penyediaan fasilitas pendukung. Razuardi menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program mitigasi ini.
"Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat merupakan langkah strategis dalam mewujudkan satuan pendidikan yang aman dari bencana," tambah Razuardi.
Pelaksanaan Bimtek diawali dengan koordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Pendidikan setempat. Sebelum pelatihan dimulai, tim penyelenggara melakukan verifikasi lapangan di beberapa kecamatan untuk memantau kesiapan infrastruktur sekolah sasaran.
Kepala Bagian Mitigasi dan Pendidikan serta Pelatihan Bencana DMC Dompet Dhuafa, Achmad Lukman, menjelaskan bahwa para peserta menjalani pelatihan tatap muka untuk mendalami kajian risiko bencana. Selain teori, para guru dibekali kemampuan menyusun standar operasional prosedur (SOP) kedaruratan dan jalur evakuasi.
"Peserta berasal dari 20 sekolah di Kabupaten Bireuen. Setelah mengikuti pelatihan, para guru juga akan mendapatkan sertifikat," ujar Achmad Lukman.
Pihak penyelenggara menargetkan agar sekolah-sekolah di Bireuen memiliki budaya sadar bencana yang kuat melalui implementasi simulasi evakuasi secara rutin. Lukman menegaskan bahwa keberlanjutan program ini sangat bergantung pada penerapan ilmu oleh para guru di instansi masing-masing.
"Harapannya, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman dan tangguh dalam menghadapi potensi bencana," kata Achmad Lukman.
Selain penguatan kapasitas individu, program ini mendorong penataan sarana prasarana sekolah agar lebih adaptif terhadap situasi darurat. Hal tersebut mencakup penentuan titik kumpul yang aman serta pemasangan rambu-rambu evakuasi yang jelas di area sekolah.