Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya mendapati satu ekor hewan kurban mengidap penyakit kulit scabies saat melangsungkan pemeriksaan kesehatan di wilayah Pabean pada Rabu (20/5), dilansir dari Media Indonesia.
Petugas langsung memisahkan hewan tersebut dari kelompoknya agar tidak ikut dipasarkan kepada masyarakat menjelang Idul Adha 2026. Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan secara menyeluruh di 31 kecamatan di Surabaya sejak Senin (18/5).
"Langsung kita isolasi. Jangan sampai nanti diperjualbelikan. Baru itu (satu) temuan (hewan kurban berpenyakit) di Pabean," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Nanik Sukristina.
Isolasi segera diterapkan demi memutus potensi penularan penyakit kulit ke ternak lain. Selain satu kasus scabies, sejumlah hewan kurban dideteksi mengidap flu ringan namun penanganan medis berupa pemberian obat langsung dilakukan di lokasi.
"Kami juga juga ada melibatkan dari perguruan tinggi akademisi dari Unair dan UWK. kemudian tidak lupa hari ini alhamdulillah kita dibersamai kegiatan kita dari Pusvetma. Kemudian dari Dinas Peternakan Provinsi Jatim dan Pelindo," katanya.
Pengawasan bersama tim gabungan ini dijadwalkan terus berlangsung sampai Selasa (26/5) pekan depan. Dari perkiraan total lebih dari 100 lapak hewan kurban di Surabaya, pemeriksaan berkala telah merambah 61 lapak dan dipastikan menyasar seluruh lapak tanpa terkecuali.
"Kemudian kita juga lakukan apa namanya pemeriksaan secara menyeluruh oleh dokter hewan yang ikut dalam pengawasan tersebut untuk kesehatan hewannya," katanya.
Prosedur pengawasan mencakup peninjauan berkas administrasi seperti surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari daerah asal ternak. Di sisi lain, Kementerian Pertanian berupaya membentengi kesehatan ternak sejak dari hulu melalui program vaksinasi.
"Kita memastikan bahwa ternak yang dilalulintaskan itu sudah memenuhi persyaratan. Mungkin sama seperti pada waktu Covid-19. Jadi ternak itu ke sini sudah di-PCR. Sudah tervaksin. Terhadap penyakit LSD, kemudian penyakit PMK dan beberapa penyakit lainnya yang strategis yang dipastikan bahwa ternak ini sehat," ujar Kepala Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma Kementan di Surabaya Edy Budi Susila.
Pengecekan ketat tersebut bertujuan agar pasokan ternak yang bermigrasi antarwilayah benar-benar terbebas dari paparan virus berbahaya. Penyelenggaraan vaksinasi massal ini dilaksanakan secara rutin sebanyak dua kali dalam satu tahun, tepatnya pada periode Februari-Maret dan Juli-Agustus.
"Pemerintah sudah menyiapkan menyediakan vaksin untuk PMK ini secara nasional kurang lebih 4 juta dosis dan di luar yang program dari swasta mandiri," ungkapnya.
Alokasi khusus dipersiapkan untuk wilayah Jawa Timur guna menekan laju penularan penyakit menular strategis. Berdasarkan data distribusi nasional, kebutuhan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk hewan di Jawa Timur mencapai 1,5 juta dosis dari total pagu produksi nasional sebanyak 4 juta dosis.