Desa Mawsynram yang terletak di Perbukitan Khasi, India, mengukuhkan posisinya sebagai tempat dengan curah hujan tertinggi di dunia pada April 2026. Wilayah yang berbatasan dengan Bangladesh ini mencatatkan rata-rata curah hujan tahunan mencapai 11.873 mm akibat posisi geografisnya di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut.
Volume air yang mengguyur desa ini jauh melampaui kota-kota besar dunia yang dikenal lembap. Dilansir dari Detik Travel, curah hujan di Mawsynram hampir 11 kali lipat dari Glasgow yang memiliki rata-rata 1.109 mm dan 22 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kota London.
Pemandu wisata setempat dari TourHQ, Jyotiprasad Oza, mengungkapkan bahwa meski cuaca ekstrem, kawasan ini tetap menarik minat ribuan pelancong mancanegara. Wisatawan dari Amerika Serikat dan Inggris rutin datang untuk melihat langsung kehidupan di bawah guyuran hujan yang tak kunjung usai.
"Kami menerima sekitar 10.000 wisatawan per tahun. Selama musim hujan, orang-orang suka berkunjung karena curah hujannya sangat tinggi, terutama Juni hingga September," jelas Jyotiprasad.
Oza menceritakan pengalamannya mengelola aktivitas wisata saat awan badai mulai menyelimuti wilayah tersebut. Pada dekade lalu, intensitas hujan di Mawsynram pernah menyentuh angka 1.003 mm hanya dalam satu hari di bulan Juni.
"Saat hujan deras, mustahil untuk keluar rumah. Kami tidak bisa berjalan-jalan setiap hari. Kami tidak boleh keluar rumah saat hujan. Terkadang anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah saat hujan. Ini cukup berbahaya," jelas Jyotiprasad.
Kondisi alam ini sering memicu tanah longsor, banjir, hingga gangguan distribusi air bersih dan listrik bagi penduduk lokal. Dampak lingkungan tersebut membuat warga harus beradaptasi secara ekstrem agar bisa bertahan hidup di tengah kelembapan tinggi.
"Kami lebih suka pindah ke tempat yang curah hujannya lebih sedikit," kata Jyotiprasad.
Masyarakat setempat mengatasi tantangan ini dengan membangun rumah kedap suara dan menggunakan payung tradisional bernama Knup yang terbuat dari bambu serta daun pisang. Selain fenomena hujan, desa ini menawarkan daya tarik wisata berupa Air Terjun Nohkalikai yang merupakan air terjun tertinggi keempat di dunia.