Pasar saham Indonesia merespons positif pencapaian produk domestik bruto pada awal tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia melonjak 65 poin atau 0,94 persen menuju level 7.035, seperti dilansir dari Investortrust.
Penguatan indeks bursa domestik tersebut terjadi pada Selasa, 5 Mei 2026 pukul 11.15 WIB. Pergerakan positif ini langsung terlihat sesaat setelah rilis data resmi mengenai pertumbuhan ekonomi nasional diumumkan ke publik.
Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar menjadi motor utama penguatan indeks. Kelompok saham perbankan papan atas KBMI IV mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dalam perdagangan tersebut.
Saham BBRI tercatat memimpin penguatan dengan kenaikan 3,95 persen ke posisi Rp 3.160. Langkah ini diikuti saham BMRI yang melonjak 2,94 persen menjadi Rp 4.550, saham BBNI meningkat 2,60 persen ke Rp 3.940, serta saham BBCA yang menguat 2,54 persen menjadi Rp 6.050.
Sentimen positif dari rilis data makroekonomi ini turut memicu lonjakan harga saham emiten besar lainnya. Saham BRPT melesat pesat sebesar 14,36 persen menuju Rp 2.110, saham TPIA menguat hingga 10,84 persen ke Rp 5.625, dan saham CUAN ikut naik sebesar 3,45 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh angka 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year pada kuartal I-2026. Laju impresif ini terjadi berkat sokongan aktivitas ekonomi domestik yang tetap solid.
Nilai Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada triwulan pertama tahun ini menyentuh angka Rp 6.187,2 triliun. Sementara itu, nilai PDB atas dasar harga konstan tercatat berada pada level Rp 3.447,7 triliun.
Realisasi performa tahunan tersebut memperlihatkan peningkatan yang cukup besar. Sebagai perbandingan, PDB ADHB pada triwulan I-2025 tercatat sebesar Rp 5.665,9 triliun dengan nilai ADHK yang bertengger pada Rp 3.264,6 triliun.
Meskipun melaju kencang secara tahunan, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara triwulanan atau quarter-to-quarter jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal IV-2025.
Pada periode kuartal keempat tahun lalu tersebut, nilai PDB ADHB tercatat sebesar Rp 6.147,2 triliun dengan tingkat ADHK mencapai Rp 3.474,5 triliun.
Penurunan tipis secara kuartalan ini mencerminkan adanya pola musiman yang biasa terjadi di awal tahun. Kendati demikian, ketahanan ekonomi nasional dinilai tetap kokoh di tengah terpaan dinamika pasar global global berkat kuatnya permintaan dalam negeri.