Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjajaki peluang akuisisi saham perusahaan asal Prancis, Eramet, pada PT Weda Bay Nickel (WBN) di Halmahera Tengah. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat peran entitas lokal dalam proyek pengembangan nikel nasional, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Selasa (12/5/2026).
CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa proses negosiasi telah dimulai untuk menjadikan lembaga yang dipimpinnya sebagai mitra domestik yang dominan. Saat ini, kepemilikan saham di PT Weda Bay Nickel masih didominasi oleh Tsingshan Group sebesar 51,2 persen dan Eramet sebesar 37,8 persen.
"Kita sih pada dasarnya terbuka, ya atas diskusi kemudian pembicaraan mengenai investasi yang ada di Indonesia dan kita kan Danantara ini bisa menjadi strong local partner juga, kan ya. Kita terbuka, kok. Kita diskusi juga dengan Eramet," jelas Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).
Pemerintah Indonesia melalui PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. atau Antam saat ini hanya memegang porsi minoritas sebesar 10 persen di perusahaan tersebut. PT Weda Bay Nickel sendiri telah beroperasi menggunakan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sejak 2019 dengan masa kontrak hingga 2069.
Upaya pencaplokan saham ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan investasi hilirisasi nikel antara Danantara dan Eramet yang dijalin tahun lalu. Kerja sama tersebut mencakup pembentukan platform investasi dari sektor hulu hingga hilir guna menyokong bahan baku baterai kendaraan listrik.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menegaskan bahwa kemitraan ini akan mengintegrasikan keahlian teknis global dengan pembiayaan jangka panjang. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong standar internasional dalam pengelolaan aset tambang yang berkelanjutan.
"Kemitraan ini mencerminkan komitmen untuk mendorong investasi hilirisasi nikel kelas dunia di Indonesia, yang merupakan salah satu pilar utama dalam memperkuat daya saing industri nasional. Kolaborasi ini juga mengintegrasikan kapasitas teknis tingkat global di bidang tambang berwawasan lingkungan yang mendukung pembangunan industri berkelanjutan," tambah Pandu.
Realisasi kerja sama ini sebelumnya telah mendapat dukungan politik melalui pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Tim teknis dari kedua belah pihak kini sedang melakukan penilaian awal untuk memetakan proyek yang paling relevan bagi ekosistem industri hijau di Indonesia.