Dana Kelolaan Reksa Dana Nasional Tembus Rp516,68 Triliun per Agustus

Dana Kelolaan Reksa Dana Nasional Tembus Rp516,68 Triliun per Agustus
Foto: Ilustrasi Dana Kelolaan Reksa Dana Nasional Tembus Rp516,68 Triliun per Agustus.

Industri reksa dana di Indonesia menunjukkan tren pemulihan dengan Nilai Aktiva Bersih mencapai Rp516,68 triliun per akhir Agustus 2023 di tengah diskusi mengenai tantangan jumlah manajer investasi yang berlebih. Dilansir dari Investortrust, pertumbuhan ini tercatat sebesar 1,67 persen sepanjang tahun berjalan meskipun menghadapi persaingan antar-pelaku industri yang ketat.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat dominasi investor reksa dana mencapai 10,85 juta orang dari total 11,58 juta investor pasar modal. Jika menjumlahkan seluruh produk investasi termasuk kontrak pengelolaan dana, total dana yang dikelola manajer investasi menyentuh angka Rp840,658 triliun pada periode yang sama.

Direktur Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengamati bahwa kesadaran masyarakat dalam berinvestasi mulai meningkat secara signifikan sejak masa pandemi Covid-19.

"Investor punya potensi besar bagi reksa dana dan awareness ini sudah muncul sejak pandemi. Reksa dana dianggap sebagai instrumen investasi yang aman dan cuannya nyaman," papar Budi Hikmat.

Presiden Direktur PT Principal Asset Management Naresh Krishnan menilai jumlah manajer investasi di Indonesia yang mencapai 95 perusahaan terlalu banyak jika dibandingkan dengan negara lain seperti India. Kondisi ini dinilai memicu persaingan yang tidak sehat serta menghambat pertumbuhan skala bisnis yang besar.

"Akibatnya, jumlah MI banyak, tapi skala bisnisnya tidak besar," kata Naresh Krishnan.

Ia menambahkan bahwa pasar yang terbatas menyebabkan terjadinya persaingan penawaran biaya atau fee yang berpotensi merusak struktur industri secara keseluruhan.

"Di India, peduduk lima kali lebih besar, hanya punya 30 perusahaan dalam konsolidasi. Tapi, bisnisnya berskala besar," ujarnya.

Inovasi produk menjadi kunci utama agar nasabah tidak merasa jenuh dengan pilihan investasi yang tersedia di pasar saat ini.

"Kalau produknya itu saja, dan tidak menarik, nasabah bosan," kata Naresh Krishnan.

Naresh menekankan perlunya MI untuk mengalokasikan lebih banyak waktu guna melakukan edukasi langsung kepada populasi masyarakat yang luas.

"Mereka perlu mengenal produk yang akan dimasuki dan mengetahui risikonya, tidak hanya mendengarkan iming-iming keuntungan," kata Naresh Krishnan.

Implementasi program tabungan rutin dianggap sebagai transisi penting untuk membantu masyarakat menemukan solusi finansial jangka panjang.

"Salah satu hal utama yang ingin kita fokuskan adalah bagaimana bisa membantu semua generasi milenial. Bagaimana mereka bisa menabung secara rutin," ujarnya.

Naresh menjelaskan bahwa fokus pada solusi tujuan hidup akan menjadi masa depan bagi industri pengelolaan aset.

"Perlu membantu masyarakat belajar dan menemukan solusi untuk kehidupan mereka dan itu akan menjadi transisi yang sangat penting dalam industri ini," tegas Naresh Krishnan.

Dalam hal perlindungan konsumen, Naresh menilai regulasi saat ini sudah berjalan pada jalur yang tepat untuk menjaga keamanan dana nasabah.

"Jadi ini bagus untuk lebih memudahkan agar kita semua bisa fokus menumbuhkan industri. Tahun lalu kita fokus pada regulasi. Kita perlu mengembangkan bisnis," paparnya.

Presiden Direktur PT Trimegah Asset Management Antony Dirga mengungkapkan bahwa dana kelolaan reksa dana Indonesia yang saat ini baru berkontribusi 5 persen terhadap PDB masih tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand.

"Di sini, 95 player MI harus sharing bersama. Sangat-sangat berat sebenarnya. Semoga ke depan persaingan industri kita semakin baik," tutur Antony Dirga.

Meski demikian, Antony memproyeksikan target AUM sebesar Rp1.000 triliun pada tahun 2027 yang ditetapkan OJK dapat terlampaui dengan mudah seiring pertumbuhan ekonomi nasional.

"AUM Rp 1.000 triliun pada 2027 yang ditargetkan OJK bisa dengan mudah tercapai. Bahkan, AUM bisa tumbuh tiga kali lipat dalam tempo 5-7 tahun dari saat ini," kata Antony Dirga.

Antony juga menggarisbawahi pentingnya transparansi mengenai tata kelola manajer investasi yang sudah maju di Indonesia untuk meningkatkan kepercayaan publik.

"Sejatinya pengawasan industri reksa dana sudah sangat ketat di RI, begitu juga dengan tata kelola manajer investasi sudah begitu maju. Hal ini harus disampaikan dengan baik untuk meningkatkan keparcayaan masyarakat pada industri ini," tutur Antony Dirga.

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto menyebutkan bahwa fluktuasi NAB dalam beberapa tahun terakhir turut dipengaruhi oleh sejumlah kasus hukum di pasar modal yang membuat investor institusi bersikap lebih waspada.

"Lembaga-lembaga tersebut dulu berinvestasi besar-besaran, tapi karena ada kasus tersebut investasi dikurangi," terangnya.

Namun, Rudiyanto melihat pengetatan regulasi oleh OJK setelah kejadian-kejadian tersebut memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan industri di masa depan.

"Tapi, di satu sisi, saya melihat selama satu tahun terakhir, regulasi menjadi lebih ketat. OJK memperketat regulasi setelah sejumlah kejadian tersebut. Manajer investasi yang kerjanya benar dan susuai aturan, diprediksi akan mencetak pertumbuhan NAB ke depan," terangnya.

Mengenai prospek imbal hasil, ia memprediksi instrumen pendapatan tetap akan diuntungkan oleh tren penurunan suku bunga global maupun domestik.

"Bayangkan ada peluang penurunan suku bunga dari 5% ke 3,5%," ungkap Rudiyanto.

CEO PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wowointana mengakui kinerja reksa dana saham cenderung stagnan dalam tujuh tahun terakhir akibat pergerakan IHSG yang terbatas.

"Penyebabnya kita lihat, IHSG relatif tidak kemana-mana (stagnan), sehingga berbanding lurus dengan kinerja reksa dana saham secara industri," papar Jemmy Paul.

Chief Investment Officer PT STAR Asset Management Susantio Chandra menyoroti peran penting regulator dalam memudahkan proses pembukaan akun secara digital yang memicu lonjakan investor ritel.

"Kalau kita lihat saat pandemi Covid-19 kemarin, industri ritel meningkat signifikan. Hal tersebut tidak terlepas dari peran regulator yang mempermudah dari segi opening account, sehingga semua proses bisa dijalankan dengan lancar," ucap Susantio Chandra.

Ia mendorong adanya penyederhanaan regulasi lebih lanjut agar industri dalam negeri bisa mengejar ketertinggalan dari negara tetangga.

"Industri pasar modal khususnya reksa dana kita masih tertinggal jika dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Jadi, penting bagi regulator untuk mempermudah regulasi bagi pelaku pasar," tandas Susantio Chandra.

Artikel terkait

Rekomendasi