Sejumlah penumpang kereta api antarkota di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, terpaksa membatalkan perjalanan dan beralih ke moda transportasi lain akibat ketidakpastian jadwal keberangkatan pada Selasa (28/4/2026). Penundaan massal ini merupakan imbas dari insiden tabrakan kereta maut yang terjadi di wilayah Bekasi pada Senin malam sebelumnya.
Dilansir dari Megapolitan, gangguan operasional ini berdampak signifikan bagi para calon penumpang yang memiliki keperluan mendesak. Salah satu penumpang, Ainun, mengaku telah menunggu di stasiun sejak pukul 10.00 WIB untuk keberangkatan menuju Semarang yang semula dijadwalkan pada pukul 13.30 WIB.
"Ini mau oper naik travel lagi, mau oper travel. Gimana lagi? Sudah enggak jadi, sudah kita dua malam di Jakarta nginap pula," ujar Ainun.
Keputusan untuk melakukan pengembalian dana tiket atau refund diambil Ainun karena dirinya harus menghadiri acara wisuda anaknya di Universitas Diponegoro pada Rabu pagi. Ia merasa tidak mungkin lagi menunggu kepastian jadwal yang terus mengalami penundaan tanpa batas waktu yang jelas.
ÔÇ£Sampai sekarang ditunda terus, enggak jelas sampai berapa jam,ÔÇØ kata Ainun.
Ketidakpastian ini sangat mengecewakan pihak keluarga lantaran mereka sudah mempersiapkan perjalanan tersebut jauh-jauh hari. Bagi mereka, moda transportasi darat lain menjadi satu-satunya solusi agar tetap bisa sampai di lokasi tujuan tepat waktu.
ÔÇ£Kalau dibatalkan besok, percuma saja. Acaranya besok pagi,ÔÇØ imbuh Ainun.
Kekecewaan serupa disampaikan oleh Taufik, suami Ainun, yang menyoroti minimnya transparansi informasi dari pihak operator kereta api. Menurutnya, pihak manajemen seharusnya memberikan pernyataan tegas sejak awal mengenai status keberangkatan agar penumpang bisa segera mencari alternatif lain.
ÔÇ£Menunggu enggak jadi masalah, tapi harus ada kepastian. Ini enggak jelas, diacak-acak jadwalnya. Harusnya kalau dibatalkan, ya dibatalkan saja dari awal, jadi kita bisa cari alternatif,ÔÇØ ucap Taufik.
Kejelasan informasi dianggap sangat krusial bagi penumpang yang terikat dengan jadwal kegiatan penting. Taufik menilai kegagalan sistem dalam memberikan pembaruan informasi telah merugikan waktu dan rencana keberangkatan keluarganya.
ÔÇ£Kalau dari awal dikasih tahu, kita bisa ancang-ancang pakai mobil atau apa. Jadi enggak kecewa, apalagi ini untuk wisuda anak,ÔÇØ kata Taufik.
Krisis jadwal ini bermula dari tabrakan antara KRL jurusan Cikarang bernomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB. Tragedi tersebut mengakibatkan 15 penumpang KRL meninggal dunia dan sejumlah lainnya luka-luka.
Para korban luka saat ini tersebar di delapan fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella, hingga RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat. Sementara itu, pihak otoritas melaporkan bahwa sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek berada dalam kondisi selamat pasca-kecelakaan tersebut.