Kondisi stres berkepanjangan tanpa pemulihan yang cukup dapat memicu gangguan fisik dan mental serius akibat tubuh yang terus berada dalam mode siaga. Fenomena ini berkaitan erat dengan mekanisme regulasi sistem saraf saat merespons tekanan hidup sehari-hari pada Rabu (13/5/2026).
Aktivasi sistem saraf simpatik atau respons fight or flight memicu pelepasan hormon adrenalin dan kortisol secara masif, sebagaimana dilansir dari Lifestyle. Kondisi ini menyebabkan peningkatan detak jantung, napas cepat, serta ketegangan otot yang berbahaya jika terjadi dalam jangka panjang.
Pendiri The Cove sekaligus spesialis Family Medicine, Dr. Aaron Block, menjelaskan bahwa stres pada dasarnya adalah mekanisme biologis manusia untuk bertahan hidup. Namun, tubuh sering kali salah mengartikan tekanan rutinitas sebagai ancaman nyata yang membuat sistem saraf sulit kembali rileks.
"Ada juga stres positif atau eustress yang dapat membantu kita tetap termotivasi dan fokus," jelas Dr. Block, dikutip dari Healthline, Rabu (13/5/2026).
Penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi biologis ini menunjukkan bahwa tubuh yang terus terjebak dalam mode waspada akan mengalami kesulitan untuk masuk ke fase pemulihan. Hal ini berdampak pada terganggunya keseimbangan fungsi organ internal secara keseluruhan.
Tanda-tanda tubuh yang mulai kewalahan meliputi kelelahan kronis, sulit tidur, serta ketegangan pada area leher dan bahu. Secara mental, individu yang mengalami stres terpendam cenderung lebih mudah gelisah, sulit fokus, dan tetap merasa tertekan meski sedang beristirahat.
Paparan hormon kortisol yang tidak terkendali dalam waktu lama terbukti meningkatkan tekanan darah dan mengganggu kadar gula darah. Dampak lanjutannya meliputi peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2, serta gangguan pencernaan dan kelelahan emosional.
Dr. Block menekankan pentingnya kemampuan tubuh untuk kembali tenang setelah menghadapi tekanan sebagai inti dari kesehatan saraf. Strategi pemulihan menjadi krusial agar sistem tubuh tidak mengalami kerusakan permanen akibat aktivasi stres yang kronis.
"Tujuan utama regulasi sistem saraf bukan menghilangkan stres sepenuhnya, melainkan membantu tubuh memiliki kemampuan untuk pulih setelah menghadapi tekanan," kata Dr. Block.
Langkah pemulihan sederhana dapat dilakukan melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik rutin, dan pemenuhan waktu tidur. Membangun hubungan sosial yang suportif serta latihan pernapasan juga menjadi metode efektif untuk mengembalikan tubuh ke kondisi rileks.