Sifat Perfeksionis Orang Tua Picu Gangguan Pola Makan Anak

Sifat Perfeksionis Orang Tua Picu Gangguan Pola Makan Anak
Foto: Ilustrasi Sifat Perfeksionis Orang Tua Picu Gangguan Pola Makan Anak.

Standar perfeksionisme yang kaku dari orang tua dalam pola asuh dilaporkan memicu konsekuensi serius terhadap kesehatan mental dan perilaku konsumsi anak sehari-hari. Fenomena ini muncul ketika ambisi memberikan yang terbaik berubah menjadi tuntutan tanpa cela yang membebani kondisi psikologis buah hati.

Dilansir dari Lifestyle pada Minggu (26/4/2026), kecenderungan orang tua untuk tampil sempurna sering kali didasari oleh keyakinan bahwa segala sesuatu akan terkendali jika mereka tidak melakukan kesalahan. Namun, tekanan ini justru sering kali berdampak negatif pada perkembangan emosional anak di meja makan.

"Orangtua seperti itu sering kali menunjukkan keinginan kaku untuk melakukan segalanya tanpa cela dalam membesarkan anak-anak mereka," jelas Erin Parks, PhD, psikolog klinis dan Chief Clinical Officer di Equip.

Parks menilai bahwa tindakan tersebut kerap didorong oleh perasaan internal orang tua yang menganggap kesempurnaan sebagai jaminan keamanan bagi keluarga mereka.

"Hal tersebut sering didorong oleh perasaan bahwa jika orangtua bisa melakukan semuanya dengan sempurna, maka semuanya akan baik-baik saja," lanjut Erin Parks, PhD.

Penerapan aturan makan yang sangat membatasi menjadi salah satu bentuk nyata dari ekspektasi tinggi tersebut. Hal ini berisiko merusak persepsi anak terhadap jenis makanan tertentu dan menciptakan kebiasaan makan yang tidak sehat di masa depan.

"Orangtua bermaksud baik, tetapi membuat aturan ketat seperti 'Kamu tidak boleh makan gula sama sekali' atau 'Kamu harus menghabiskan semua yang ada di piringmu,' dapat berkontribusi pada hubungan yang tidak sehat dengan makan," papar Thea Runyan, pendiri dan CEO Pediatric Health Coaching Academy.

Runyan menambahkan bahwa pelabelan negatif pada makanan dapat membuat anak merasa bersalah atau cenderung mencari makanan yang dilarang secara sembunyi-sembunyi.

"Anak-anak mungkin mulai merasa bersalah atas pilihan makanannya, atau suka menyelinap mengambil makanan yang dilarang," sambung Thea Runyan.

Selain masalah perilaku, anak-anak juga cenderung menginternalisasi label yang diberikan orang tua terhadap makanan ke dalam identitas diri mereka sendiri.

"Mereka juga akan mulai melabeli diri mereka sendiri sebagai baik atau buruk berdasarkan apa yang mereka makan," jelas Erin Parks, PhD.

Stres yang dialami orang tua terkait nutrisi anak ternyata sangat mudah dirasakan oleh sang buah hati meskipun orang tua mencoba menutupinya.

"Jika anak berusia 8 tahun menyebut diri mereka 'buruk' karena makan sepotong kue, itu adalah waktu yang tepat untuk evaluasi kembali," saran Thea Runyan.

Kecemasan atau rasa jijik yang muncul sebelum waktu makan merupakan tanda peringatan dini yang harus diwaspadai oleh setiap wali murid.

"Jika seorang anak cemas atau jijik sebelum makan, itu adalah tanda peringatan yang juga harus diwaspadai," tambah Erin Parks, PhD.

Psikiater anak dan remaja, dr. Asha Patton-Smith, MD, menyoroti bahwa dorongan untuk menjadi sempurna bisa sangat melelahkan bagi kedua belah pihak.

"Stres akibat perfeksionisme orangtua dan keinginan untuk menjadi sempurna bagi anak dan orangtua terkadang bisa sangat melelahkan. Hal ini dapat menyebabkan perasaan internal kehilangan kendali," tutur dr. Asha Patton-Smith, MD.

Larangan yang terlalu kaku terhadap makanan tertentu justru diketahui dapat memicu rasa penasaran yang berlebihan pada anak-anak.

"Komunikasi semacam itu telah dikaitkan dengan peningkatan risiko ketidakpuasan tubuh, perilaku pengendalian berat badan yang tidak sehat, serta berkurangnya kesejahteraan psikologis pada anak-anak dan remaja," terang dr. Asha Patton-Smith, MD.

Sebagai solusi, keterlibatan anak dalam proses perencanaan gizi, seperti berbelanja atau memasak bersama, dinilai lebih efektif dalam membentuk kebiasaan makan yang positif.

"Ketika mereka menjadi bagian dari proses tersebut, mereka jauh lebih mungkin memakan apa yang telah kamu siapkan," kata Thea Runyan.

Artikel terkait

Rekomendasi