Kurang Tidur Picu Gangguan Hormon dan Risiko Penurunan Sensitivitas Insulin

Kurang Tidur Picu Gangguan Hormon dan Risiko Penurunan Sensitivitas Insulin
Foto: Ilustrasi Kurang Tidur Picu Gangguan Hormon dan Risiko Penurunan Sensitivitas Insulin.

Kualitas tidur yang buruk secara signifikan memicu gangguan keseimbangan hormon dan penurunan sensitivitas insulin pada tubuh manusia sebagaimana dilaporkan pada Senin, 20 April 2026. Kondisi tersebut berdampak langsung pada efektivitas tubuh dalam mengontrol kadar gula darah serta meningkatkan risiko gangguan metabolik jangka panjang.

Peningkatan hormon stres atau kortisol juga menjadi konsekuensi medis akibat kurang tidur yang terus-menerus. Fenomena ini menyebabkan tubuh berada dalam kondisi siaga yang memicu kenaikan tekanan darah serta penumpukan lemak, khususnya di area perut, berdasarkan data kesehatan yang dilansir dari Detik Health.

Praktisi kesehatan dr Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK, menjelaskan dalam diskusi di Jakarta bahwa durasi istirahat yang tidak cukup secara langsung memengaruhi regulasi rasa lapar. Ketidakseimbangan ini terjadi karena peningkatan hormon ghrelin dan penurunan hormon leptin dalam sistem pencernaan.

"Orang yang kurang tidur bikin hormon ghrelin itu naik. Hormon ghrelin itu hormon yang memicu rasa lapar. Jadi, kalau kita kurang tidur, besokannya biasanya akan lebih lapar dibandingkan dengan kita cukup tidur," ujar dr Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK.

Penanganan terhadap kondisi ini memerlukan pemulihan pola tidur yang konsisten untuk mengembalikan fungsi metabolisme. Penyesuaian asupan makanan juga disarankan agar tetap seimbang tanpa melakukan pengurangan nutrisi secara ekstrem.

"Yang paling penting, balik ke pola tidur sebelumnya supaya keseimbangan hormonnya kembali lagi. Jadi, bukan makan lebih sedikit, tapi makan lebih seimbang. Jangan didikitin banget, tapi dibuat lebih seimbang," jelas dr Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK.

Penerapan gaya hidup sehat dan pengaturan jadwal tidur yang disiplin menjadi langkah preventif utama. Kebiasaan membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan menghindari konsumsi kafein sejak sore hari sangat dianjurkan untuk memperbaiki kualitas istirahat.

"Paparan sinar akan membuat kita tetap terstimulasi, jadi lebih sulit untuk tidur," jelas dr Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK.

Dokter Juwalita juga menekankan pentingnya melakukan reset rutinitas setelah mengalami perubahan pola hidup, seperti usai masa liburan panjang. Langkah ini mencakup penyeimbangan kembali nutrisi, kecukupan hidrasi, dan pemenuhan durasi tidur harian.

"Kita reset lagi, kembali ke pola makan normal, seimbangkan nutrisi, cukup minum, dan tidurnya juga harus cukup," ujar dr Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK.

Kebutuhan tidur bagi orang dewasa tetap berada pada rentang 7 hingga 9 jam setiap malam. Pengaturan jarak makan terakhir sekitar 2 hingga 3 jam sebelum tidur juga diperlukan agar beban kerja organ tubuh tidak terlalu berat saat fase istirahat berlangsung.

Artikel terkait

Rekomendasi