Hubungan pertemanan tidak selalu memberikan dampak positif, terutama jika di dalamnya terdapat candaan yang bersifat toksik. Interaksi yang terlihat menyenangkan sering kali justru menjadi kedok untuk merendahkan atau mempermalukan orang lain secara halus.
Istilah ini dikenal sebagai hurtful humor atau humor yang melukai, sebagaimana dikutip dari Lifestyle melalui penjelasan psikolog Kimberly Key, Ph.D dalam Psychology Today. Perilaku ini kerap dianggap sepele karena pelaku membungkusnya dengan tawa dan dalih sekadar bercanda.
Padahal, jika terjadi secara repetitif, humor jenis ini dapat menggerus kesehatan mental dan rasa percaya diri seseorang. Dalam konteks hubungan sosial, candaan ini bahkan bisa berkembang menjadi bentuk manipulasi emosional yang sulit untuk dideteksi oleh korbannya.
Humor sejatinya berfungsi untuk mempererat ikatan sosial dan menciptakan suasana yang nyaman bagi semua pihak. Namun, dalam pola pertemanan yang tidak sehat, lelucon justru dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyindir atau menunjukkan dominasi terhadap pihak lain.
Bahan candaan tersebut biasanya menyasar aspek sensitif seperti fisik, karier, kehidupan asmara, hingga kelemahan pribadi yang dilakukan di hadapan banyak orang. Key menjelaskan bahwa menjadikan satu orang sebagai sasaran tetap merupakan indikasi adanya masalah dalam hubungan tersebut.
"Tetapi humor yang berulang kali menempatkan satu orang sebagai sasaran lelucon dapat menjadi bentuk dominasi sosial, dan tanda bahaya bahwa Anda mungkin sedang berurusan dengan teman palsu narsistik yang sombong," kata Key.Pelaku sering kali mengeluarkan pembelaan seperti "jangan baper" atau "kan cuma bercanda" ketika korban merasa sakit hati. Respons ini secara tidak langsung memaksa korban mempertanyakan validitas perasaannya sendiri dan merasa dirinya terlalu sensitif.
Risiko Kehilangan Rasa Percaya Diri
Ejekan yang dibungkus humor secara terus-menerus memberikan dampak jangka panjang terhadap cara seseorang memandang diri mereka sendiri. Tekanan emosional ini berpotensi memicu rasa rendah diri hingga ketakutan untuk berinteraksi dalam lingkungan sosial tertentu.
Rasa malu yang timbul akibat dijadikan bahan tertawaan di depan umum dapat merusak kesejahteraan psikologis. Prinsip humor yang sehat seharusnya memberikan kenyamanan bagi seluruh anggota kelompok, bukan hanya menghibur satu orang dengan mengorbankan perasaan orang lain.
Alat Kontrol dan Kekuasaan
Dalam beberapa situasi, humor berfungsi sebagai alat untuk memegang kendali atau kekuasaan sosial. Seseorang yang sering mengejek temannya lewat candaan biasanya memiliki keinginan untuk terlihat lebih unggul, lebih lucu, atau lebih diterima oleh kelompoknya.
Pola komunikasi seperti ini sering ditemukan pada individu dengan kecenderungan narsistik. Mereka cenderung menggunakan sindiran atau humor sarkastik untuk menjatuhkan orang lain secara terselubung, tanpa harus terlihat agresif secara langsung di mata publik.
Sangat penting bagi setiap individu untuk mengenali batas kenyamanan pribadi dalam berinteraksi. Pertemanan yang berkualitas seharusnya menjadi ruang yang aman dan suportif, di mana setiap anggotanya merasa dihargai tanpa adanya intimidasi yang berkedok lelucon.
Menurut Key, indikator utama candaan yang sehat adalah ketika semua orang bisa tertawa bersama-sama. Hubungan perlu dievaluasi jika seseorang merasa lelah, tidak dihargai, atau kehilangan kepercayaan diri setelah berkumpul dengan lingkaran pertemanannya.