Cegah Kekerasan, PBNU Gelar Roadshow Pesantren Ramah Anak 2026 di 4 Provinsi

Cegah Kekerasan, PBNU Gelar Roadshow Pesantren Ramah Anak 2026 di 4 Provinsi
Foto: Cegah Kekerasan, PBNU Gelar Roadshow Pesantren Ramah Anak 2026 di 4 Provinsi. (Illustration by Pexels)

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan perhatian serius terhadap meningkatnya laporan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan. Langkah konkret diambil dengan meluncurkan inisiatif berskala nasional untuk memitigasi risiko tersebut sejak dini.

Melalui Satuan Anti Kekerasan (Saka) Pesantren, PBNU secara resmi menggelar rangkaian roadshow bertajuk Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak. Program strategis ini direncanakan akan menyasar institusi pendidikan di empat provinsi besar di Indonesia.

Inisiasi Roadshow Perdana di Pasuruan

Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, terpilih menjadi lokasi pembuka bagi rangkaian gerakan perlindungan anak ini. Kegiatan perdana tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Al Yasini dengan melibatkan berbagai elemen penting di dalam lingkungan pesantren.

Ketua Saka Pesantren PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa agenda di Pasuruan mencakup sosialisasi serta konsolidasi bersama para pengasuh pondok. Selain itu, pelatihan khusus diberikan kepada jajaran ustaz, ustazah, pembimbing santri (musyrif/musyrifah), hingga para santri itu sendiri.

Pernyataan Alissa Wahid terkait urgensi perlindungan santri:

  • Gerakan ini merupakan respons atas kebutuhan mendesak untuk memperkuat sistem pencegahan kekerasan.
  • PBNU berkomitmen memastikan pesantren menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendidik bagi seluruh santri.
  • Pihaknya ingin menegaskan kembali identitas pesantren sebagai tempat yang melindungi martabat manusia.
  • Sistem penanganan kasus di internal pesantren perlu diperkuat agar lebih responsif dan efektif.

Alissa Wahid menekankan bahwa inisiatif ini bukan sekadar imbauan, melainkan upaya membangun benteng pertahanan bagi keselamatan fisik dan mental santri. Hal ini bertujuan agar proses belajar mengajar tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai luhur kepesantrenan.

Materi Pelatihan dan Fokus Utama Kegiatan

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 1-2 Juni 2026, membekali peserta dengan pengetahuan praktis dan teoretis. Materi yang disampaikan dirancang untuk menjawab tantangan zaman dalam pengasuhan anak di lingkungan asrama.

Para peserta mendapatkan edukasi mengenai tarbiyah jinsiyah atau pendidikan seksual yang relevan dengan konteks agama dan kesehatan. Selain itu, literasi media menjadi poin penting agar santri dan pengajar lebih bijak dalam menghadapi pengaruh informasi digital.

Daftar fokus utama dalam pelatihan dan halaqah:

  • Pemberian pemahaman mendalam mengenai pendidikan seksual berbasis perlindungan anak.
  • Penguatan literasi media untuk membentengi santri dari konten negatif di dunia maya.
  • Transformasi pola pengasuhan yang mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan santri.
  • Pembentukan mekanisme deteksi dini untuk mengenali indikasi awal terjadinya kekerasan.
  • Penyusunan prosedur pelaporan internal yang aman dan tidak menyudutkan korban.

Melalui pembekalan ini, setiap pesantren diharapkan memiliki kapasitas mandiri dalam mengelola konflik dan potensi kekerasan. Harapan besarnya adalah terciptanya lingkungan belajar yang kondusif tanpa ada rasa takut bagi peserta didik.

Konsolidasi Pengasuh dan Perluasan Wilayah

Selain pelatihan teknis bagi pengajar, panitia juga menggelar Halaqah Pengasuh Pesantren yang menjadi wadah diskusi tingkat tinggi. Forum ini mempertemukan para kiai dan pengasuh dengan narasumber ahli untuk membahas kebijakan internal lembaga.

Diskusi tersebut difokuskan pada sinkronisasi antara sistem perlindungan anak modern dengan karakter serta nilai-nilai tradisional pesantren. Dengan demikian, aturan yang dibuat tidak akan berbenturan dengan norma agama yang selama ini dipegang teguh.

Target sasaran dan jangkauan wilayah roadshow:

Wilayah Provinsi Estimasi Peserta Fokus Utama
Jawa Timur Sekitar 1.100 peserta Sosialisasi awal dan model percontohan
Jawa Tengah Sekitar 1.100 peserta Konsolidasi pengasuh dan pelatihan staf
Jawa Barat Sekitar 1.100 peserta Penguatan literasi media dan pola asuh
Lampung Sekitar 1.100 peserta Mekanisme pelaporan dan deteksi dini

Secara keseluruhan, PBNU menargetkan partisipasi dari sedikitnya 4.400 orang yang berasal dari pesantren tuan rumah maupun lembaga di sekitarnya. Luasnya jangkauan ini diharapkan mampu menciptakan dampak masif dalam perubahan budaya di lingkungan pendidikan NU.

Komitmen Jangka Panjang PBNU

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Hodri Arief, memberikan penegasan bahwa agenda ini adalah bentuk konsolidasi nyata. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki visi yang sama dalam melindungi masa depan generasi muda NU.

Menurut Hodri, gerakan ini jauh lebih dalam daripada sekadar seremonial belaka. Ini adalah ikhtiar kolektif untuk menjaga agar pesantren tetap menjadi institusi yang bermartabat dan terpercaya bagi masyarakat luas.

Langkah penutup dalam rangkaian Gerakan Nasional:

  1. Pembacaan sembilan poin aksi Pesantren Aman sebagai panduan bagi setiap lembaga.
  2. Pelaksanaan deklarasi bersama oleh seluruh pengasuh dan pengurus pesantren yang hadir.
  3. Penandatanganan komitmen tertulis sebagai bukti keseriusan mewujudkan pesantren ramah anak.
  4. Evaluasi berkala terhadap implementasi sistem perlindungan anak di setiap daerah.

Rangkaian aksi ini diharapkan menjadi standar baru bagi operasional pondok pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Dengan adanya komitmen tertulis, setiap lembaga memiliki tanggung jawab moral untuk mematuhi prinsip-prinsip keamanan santri.

Melalui langkah progresif ini, PBNU berupaya memastikan bahwa pesantren tetap menjadi pilar utama pembangunan karakter bangsa. Keselamatan santri menjadi prioritas utama agar mereka dapat menuntut ilmu dengan tenang demi masa depan yang lebih baik.

Artikel terkait

Rekomendasi