PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) menetapkan target besar untuk memulai produksi komersial sel baterai dan battery pack. Fasilitas ini disiapkan untuk kendaraan listrik serta Battery Energy Storage System (BESS) pada awal kuartal III-2026.
Rencana strategis tersebut mengemuka setelah kunjungan Komisi XII DPR RI ke lokasi pembangunan fasilitas produksi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Proyek jumbo ini menempati lahan seluas 43 hektare di kawasan Artha Industrial Hill (IAH) dan Karawang New Industry City (KNIC), seperti dikutip dari Investortrust.
Kunjungan kerja yang berlangsung pada Rabu (15/4/2026) tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan. Peninjauan ini melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Kabupaten Karawang, serta PT PLN (Persero) untuk membahas kesiapan operasional hingga infrastruktur listrik.
CATIB merupakan perusahaan patungan antara PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI) atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co Limited, Brunp, Lygend (CBL) melalui CBL International Development Pte Ltd.
Pada tahap awal, pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 6,9 GWh per tahun. Manajemen berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas tersebut secara bertahap hingga mencapai kisaran 15 GWh.
Putri Zulkifli Hasan menyatakan bahwa transformasi menuju energi bersih dan ekonomi rendah karbon merupakan agenda strategis nasional yang terus didorong melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai.
Ia menilai industri baterai menjadi pilar penting dalam mendukung dekarbonisasi sektor transportasi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa ketersediaan mineral strategis seperti nikel, kobalt, dan mangan sebagai bahan baku utama baterai. Melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Potensi Pasar Baterai NMC dan LFP
Direktur Utama PT IBI, Aditya Farhan Arif, membenarkan bahwa fasilitas produksi di Karawang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal III-2026.
"IBI berkomitmen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.
Pabrik CATIB nantinya memproduksi baterai lithium-ion dengan dua jenis kimia, yaitu nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium ferro phosphate (LFP). Saat ini, pasar baterai LFP telah terbentuk dengan baik di kancah global maupun domestik.
Sebaliknya, pasar baterai berbasis NMC masih berada dalam tahap pertumbuhan. Data PT IBI menunjukkan penggunaan baterai NMC pada mobil listrik secara global telah mencapai 40 persen, namun di Indonesia angkanya baru menyentuh sekitar 4 persen.
Aditya mengatakan, IBI berharap adanya dukungan kebijakan dari pemerintah dan legislatif untuk mempercepat pengembangan pasar domestik baterai berbasis nikel, guna memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Sebagai informasi, PT IBI dibentuk oleh BUMN holding pertambangan MIND ID melalui PT Antam Tbk dan PT Inalum (Persero), bersama PT Pertamina Power Indonesia (PPI) dan PT PLN (Persero). Kepemilikan saham terdiri dari Antam 33,75 persen, Inalum 33,75 persen, PPI 25 persen, dan PLN 7,5 persen.