Hari Raya Iduladha selalu menjadi momen yang dinantikan masyarakat untuk menikmati berbagai hidangan olahan daging. Sering kali, jumlah daging yang diterima cukup melimpah sehingga tidak semuanya bisa langsung dimasak dan harus disimpan sebagai cadangan pangan.
Namun, cara menyimpan daging kurban tidak boleh dilakukan sembarangan agar kualitasnya tetap terjaga. Mhd. Aldrian, seorang sarjana gizi dari Universitas Andalas, membagikan panduan aman mengenai teknik penyimpanan daging kurban yang benar.
Melansir informasi dari detikhealth, penanganan daging yang tepat sangat krusial untuk mempertahankan kesegaran serta kualitas nutrisinya. Selain itu, langkah yang benar juga efektif meminimalisir risiko pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Menurut penjelasan Aldrian, terdapat delapan tahapan penting yang harus dilakukan agar daging kurban tetap aman dikonsumsi dan memiliki daya simpan yang lebih lama. Berikut adalah rincian panduan tersebut sebagaimana dikutip dari sumber yang sama.
1. Hindari Membiarkan Daging Terlalu Lama di Suhu Ruangan
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah membiarkan daging tergeletak di meja dapur dalam waktu yang lama setelah diterima. Banyak orang menunda penyimpanan karena harus membagi porsi, berbelanja bumbu tambahan, atau sekadar menunggu waktu memasak tiba.
Padahal, semakin lama daging terpapar suhu ruangan, maka peluang bagi bakteri untuk berkembang biak akan semakin besar. Idealnya, daging kurban harus segera diproses dan tidak boleh didiamkan lebih dari dua jam di suhu ruangan setelah diterima dari panitia.
2. Pisahkan Antara Daging dan Jeroan
Kebersihan dan keamanan daging juga sangat dipengaruhi oleh cara distribusinya sejak awal. Disarankan untuk memisahkan daging dengan jeroan agar tidak terjadi kontaminasi silang yang bisa merusak kualitas daging tersebut.
Bahkan, jeroan merah dan jeroan hijau sangat dianjurkan untuk diletakkan di dalam wadah yang berbeda. Hal ini dikarenakan jeroan hijau, seperti usus dan babat, memiliki risiko kontaminasi bakteri yang jauh lebih tinggi karena bersentuhan langsung dengan saluran pencernaan hewan.
Drh. Ira Firgorita, selaku Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan di Kementan, memberikan saran tambahan dalam sebuah webinar BPOM pada 21 Mei 2026. Ia menyarankan agar jeroan hijau sebaiknya direbus terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada masyarakat.
3. Cukup Keringkan Daging Menggunakan Tisu Dapur
Kebiasaan langsung mencuci seluruh daging kurban sesampainya di rumah sebenarnya kurang tepat dilakukan dalam semua kondisi. Menurut drh. Ira, jika daging yang diterima sudah dalam keadaan bersih dan kering, maka proses pencucian sebelum disimpan tidak diperlukan lagi.
Pencucian baru dilakukan apabila daging terlihat jelas terkena kotoran tanah, rumput, bulu hewan, atau tercampur dengan sisa isi jeroan. Jika harus dicuci, gunakanlah air mengalir untuk membersihkannya secara merata.
Setelah proses pembersihan selesai, daging wajib ditiriskan dan dikeringkan menggunakan tisu dapur untuk mengurangi kadar airnya. Kelembapan yang terlalu tinggi pada daging dapat memicu pertumbuhan bakteri secara cepat selama masa penyimpanan di kulkas.
4. Jaga Kebersihan Tangan Sebelum dan Sesudah Mengolah Daging
Aspek kebersihan tangan sering kali terabaikan saat seseorang sibuk mengolah daging kurban dalam jumlah banyak. Padahal, tangan merupakan media yang paling mudah untuk memindahkan bakteri ke bahan makanan lain, peralatan memasak, hingga permukaan kulkas.
Sangat disarankan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik sebelum serta sesudah memegang daging mentah. Kebiasaan ini sangat membantu dalam mencegah terjadinya kontaminasi silang dengan makanan matang atau sayuran segar di dapur.
Selain menjaga kebersihan tangan, penggunaan alat dapur seperti talenan dan pisau juga harus diperhatikan. Sebaiknya bedakan peralatan yang digunakan untuk mengolah daging mentah dengan peralatan untuk memotong bahan makanan yang sudah matang.
5. Gunakan Wadah Bersih dan Bersertifikat Food Grade
Kualitas daging selama berada di dalam lemari pendingin sangat bergantung pada jenis wadah penyimpanan yang digunakan. Daging harus disimpan dalam wadah bersih yang tertutup rapat untuk mencegah kontaminasi dari aroma atau bakteri bahan makanan lain.
Pilihlah wadah yang berbahan food grade karena material ini dirancang khusus agar aman saat bersentuhan langsung dengan makanan. Wadah jenis ini memiliki keunggulan tidak mudah melepaskan zat kimia berbahaya meskipun disimpan dalam suhu yang sangat dingin.
Wadah yang tertutup rapat juga berfungsi untuk mencegah cairan dari daging mentah menetes ke bawah. Hal ini sangat penting agar tidak mencemari bahan makanan lain yang disimpan di dalam rak kulkas yang sama.
6. Bagi Daging Menjadi Porsi Sekali Masak
Retno Anggrina Khalistha Dewi, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya dari BPOM, mengingatkan pentingnya membagi daging dalam porsi kecil sebelum masuk ke freezer. Banyak orang yang melakukan kesalahan dengan menyimpan daging dalam satu bongkahan besar yang masih menyatu.
Menyimpan dalam potongan besar memaksa kita untuk mencairkan seluruh daging saat hanya ingin memasak sebagian saja. Proses mencairkan kembali atau thawing berulang kali justru akan memicu risiko kontaminasi bakteri yang baru pada daging tersebut.
Rekomendasi penyimpanan daging kurban yang praktis menurut pakar :
- Potong daging menjadi ukuran kecil sesuai dengan takaran satu kali memasak di rumah.
- Simpan setiap porsi dalam wadah plastik atau kotak penyimpanan yang berbeda-beda.
- Ambil hanya wadah yang diperlukan saat akan memasak tanpa mengganggu stok daging lainnya.
- Hindari membekukan kembali daging yang sudah pernah dicairkan sebelumnya.
Dengan menerapkan metode porsi sekali masak ini, daging akan lebih terjaga higienitasnya karena tidak terpapar perubahan suhu yang ekstrem secara berulang. Selain itu, cara ini juga memudahkan proses memasak karena daging lebih cepat cair saat dikeluarkan dari freezer.
7. Berikan Label Tanggal untuk Urutan Penyimpanan
Kondisi freezer yang penuh sesak sering kali membuat kita lupa mana daging yang lebih dulu disimpan dan mana yang baru masuk. Hal ini bisa menyebabkan daging yang sudah lama tersimpan justru tertimbun di bagian bawah dan kualitasnya menurun.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menempelkan label tanggal penyimpanan pada setiap wadah atau plastik daging kurban. Langkah sederhana ini akan membantu Anda menerapkan sistem manajemen stok yang lebih baik dan teratur.
Sistem ini dikenal dengan istilah FIFO atau First In, First Out, di mana bahan yang masuk pertama harus digunakan lebih awal. Dengan prinsip FIFO, kualitas daging tetap terjaga dan Anda bisa menghindari risiko menyimpan daging terlalu lama hingga melampaui batas aman.
8. Pantau Suhu Penyimpanan Secara Konsisten
Faktor suhu merupakan elemen paling krusial dalam memperlambat aktivitas mikroorganisme pada daging segar. Ketepatan pengaturan suhu di kulkas akan menentukan berapa lama daging tersebut bisa bertahan sebelum mulai membusuk.
Berikut adalah panduan suhu penyimpanan daging yang disarankan untuk menjaga kesegarannya :
| Jenis Penyimpanan | Suhu yang Disarankan | Estimasi Daya Simpan |
|---|---|---|
| Chiller (Kulkas Bawah) | Sekitar 4 Derajat Celsius | 1 sampai 2 hari saja |
| Freezer (Pembeku) | Minimal Minus 18 Derajat Celsius | Beberapa bulan hingga setahun |
Tabel di atas menunjukkan bahwa suhu dingin yang ekstrem di freezer sangat efektif dalam menghentikan aktivitas bakteri sepenuhnya. Dengan menjaga suhu di angka minus 18 derajat Celsius, kualitas tekstur dan rasa daging bisa tetap terjaga dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Pastikan juga pintu kulkas atau freezer tidak terlalu sering dibuka-tutup agar suhu di dalamnya tetap stabil. Fluktuasi suhu yang sering terjadi dapat memengaruhi keawetan daging dan mempercepat kerusakan sel-sel pada serat daging tersebut.