Bekerja hingga larut malam atau lembur sering kali dianggap sebagai bukti loyalitas karyawan agar posisi mereka tetap aman di perusahaan. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), strategi ini dinilai tidak lagi efektif untuk menjamin keamanan karier seseorang.
Kini muncul fenomena "hari kerja tanpa batas" di mana karyawan terus mendapatkan notifikasi pekerjaan melalui pesan dan email meski jam kantor telah usai. Ironisnya, kehadiran teknologi AI justru sering membuat pekerja menghabiskan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka dibandingkan sebelumnya.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh platform Monster terhadap 807 pekerja, sebanyak 76% responden merasa mereka memiliki kecenderungan gila kerja atau workaholic. Meski demikian, para pakar karier memperingatkan bahwa bekerja secara berlebihan demi menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) bukanlah solusi yang tepat.
Dampak AI dan Restrukturisasi Perusahaan
Kalifa Oliver, seorang pakar pengalaman karyawan, menyatakan bahwa keamanan pekerjaan di era AI saat ini sudah tidak bisa lagi dipastikan secara mutlak. Menurutnya, dedikasi waktu yang besar tidak selalu sebanding dengan jaminan posisi di sebuah perusahaan yang terus bertransformasi.
Kondisi ini terbukti dari langkah Meta yang melakukan pemangkasan terhadap sekitar 8.000 karyawannya pada pertengahan Mei lalu. CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan bahwa persaingan di dunia AI sangat ketat sehingga kesuksesan perusahaan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang pasti.
Prediksi mengenai pengurangan tenaga kerja manusia juga tertuang dalam laporan Global Talent Trends 2026 yang dirilis oleh konsultan Mercer. Laporan tersebut merangkum proyeksi para eksekutif mengenai perubahan pola kerja di masa depan akibat pengaruh teknologi.
Poin penting dari laporan Global Talent Trends 2026 adalah:
- Sebanyak 99% eksekutif memperkirakan adanya perubahan besar dalam struktur organisasi dalam dua tahun ke depan.
- Jumlah tenaga kerja diprediksi akan berkurang hingga 20% akibat efisiensi yang dipicu oleh implementasi AI.
- Perubahan cara kerja ini menuntut adaptasi keterampilan baru dibandingkan sekadar menambah jam kerja.
Data tersebut menunjukkan bahwa efisiensi teknologi mulai menggeser peran manusia yang selama ini mengandalkan durasi kerja manual yang panjang.
Bahaya Burnout Bagi Karyawan dan Bisnis
Menurut konsultan kepemimpinan Chelsea Jay, rasa takut kehilangan pekerjaan yang diluapkan dengan bekerja berlebihan justru bisa memicu gangguan kesehatan mental. Kebiasaan ini sering kali berujung pada siklus berpikir berlebihan (overthinking) yang mengganggu kualitas hidup sehari-hari.
Dampak negatif dari kelelahan kronis atau burnout mencakup penurunan kreativitas, gangguan tidur, hingga rasa frustrasi yang mendalam. Sebuah laporan kesehatan mental menyebutkan bahwa hampir separuh pekerja yang mengalami burnout merasa sulit untuk tetap fokus dan produktif.
Kalifa Oliver mengingatkan bahwa hubungan antara karyawan dan perusahaan pada dasarnya adalah sebuah transaksi profesional yang rasional. Jika karyawan terlalu lelah, mereka justru berisiko melakukan kesalahan fatal dan kehilangan kemampuan untuk berinovasi bagi kemajuan perusahaan.
Berikut adalah beberapa langkah evaluasi beban kerja yang disarankan oleh pakar:
- Meninjau apakah target pekerjaan masih masuk akal atau melampaui kapasitas normal manusiawi.
- Mengidentifikasi apakah ada kekurangan keterampilan yang membuat durasi penyelesaian tugas menjadi lebih lama.
- Memastikan ketersediaan dukungan dari tim atau kemungkinan untuk mendelegasikan sebagian tugas.
- Mencatat penggunaan waktu selama satu minggu untuk mengetahui aktivitas apa yang paling tidak produktif.
Dengan melakukan evaluasi tersebut, karyawan diharapkan bisa bekerja lebih cerdas tanpa harus mengorbankan waktu istirahat secara berlebihan.
Sebagai kesimpulan, para pakar menekankan bahwa bekerja keras tetaplah penting dalam meniti karier profesional. Namun, menjadikan lembur dan kelelahan fisik sebagai syarat kesuksesan hanya akan menjadi bumerang bagi kesejahteraan karyawan dan stabilitas bisnis perusahaan.