BYD Incar Fasilitas Produksi Volkswagen dan Stellantis untuk Ekspansi di Eropa

BYD Incar Fasilitas Produksi Volkswagen dan Stellantis untuk Ekspansi di Eropa
Foto: Ilustrasi BYD Incar Fasilitas Produksi Volkswagen dan Stellantis untuk Ekspansi di Eropa.

Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, tengah menjalankan strategi ekspansi agresif dengan membidik fasilitas produksi milik para pesaingnya di Eropa. Langkah ini diambil untuk membangun pusat produksi lokal tanpa harus memulai konstruksi dari nol.

Dilansir dari Suara, raksasa EV yang memegang predikat penjual mobil listrik terbesar di dunia tersebut sedang bernegosiasi untuk menggunakan fasilitas produksi milik Volkswagen (VW) di Jerman. Selain itu, BYD juga mengincar pabrik di bawah payung grup Stellantis di Italia.

Langkah taktis ini bertujuan untuk mempercepat produksi mandiri sekaligus menghindari kebijakan pajak impor Uni Eropa yang ketat. Di sisi lain, BYD juga mengincar label kualitas Made in Germany yang prestisius di mata konsumen global.

Kabar yang paling menarik perhatian adalah manuver BYD terhadap sebagian area di pabrik legendaris milik Volkswagen di Dresden, Jerman. Fasilitas yang dikenal sebagai Transparent Factory atau Gläserne Manufaktur ini merupakan ikon kemewahan teknik Jerman dengan dinding kaca megah.

Pabrik Dresden dulunya memproduksi mobil-mobil prestisius seperti VW Phaeton hingga mobil listrik ID.3. Namun, seiring langkah efisiensi global untuk memangkas produksi dari 12 juta menjadi 9 juta unit per tahun, pabrik yang mempekerjakan sekitar 205 orang ini menjadi sangat sepi.

Menurut Arena EV, BYD kini dalam tahap negosiasi untuk mengisi setengah dari area gedung kaca tersebut. Area tersebut rencananya akan disulap menjadi jalur produksi mobil listrik mereka sendiri.

Bagi Volkswagen, berbagi ruang dengan rival dianggap sebagai langkah cerdas untuk menekan biaya operasional di tengah penyusutan kapasitas produksi. Sementara bagi BYD, masuk ke Dresden menjadi simbol kepercayaan kualitas lewat label manufaktur Jerman.

Sasar Jaringan Stellantis di Italia

Radar ekspansi BYD tidak berhenti di Jerman, melainkan turut mengarah ke Italia untuk membidik pabrik-pabrik di bawah grup Stellantis. Induk perusahaan yang membawahi brand Fiat dan Peugeot ini memiliki banyak fasilitas produksi yang sedang menganggur.

Stellantis bersikap terbuka untuk menjual atau berbagi jalur produksi demi efisiensi biaya operasional. BYD memilih jalur ini karena dinilai jauh lebih cepat dibandingkan harus melakukan pembangunan dari awal di lahan kosong.

Langkah cepat BYD ini didorong oleh regulasi Uni Eropa yang semakin memperketat aturan kendaraan listrik impor asal China. Saat ini, Uni Eropa mengenakan pajak impor sebesar 10% ditambah tarif tambahan hingga 17% untuk menangkal isu subsidi.

Melalui produksi langsung di dalam wilayah Eropa, BYD dapat menghindari tembok pajak tersebut. Langkah ini sekaligus mengubah citra perusahaan dari pendatang asing menjadi pemain lokal di pasar regional.

Independensi Manajemen dan Dominasi Pasar

Meskipun bekerja sama dalam penyediaan lahan dan fasilitas, BYD tetap memegang teguh prinsip independensi dalam operasional manufaktur mereka.

Executive Vice President BYD, Stella Li, menegaskan bahwa perusahaan ingin mengelola fasilitas produksi tersebut secara mandiri tanpa struktur joint venture tradisional yang melibatkan campur tangan manajemen lokal.

Strategi ini diambil untuk memastikan standar dan cara kerja khas BYD tetap terjaga tanpa terpengaruh oleh tradisi korporat Eropa.

BYD tercatat sudah mulai membangun pabrik di Hungaria dan merencanakan pusat produksi kedua di Turki. Langkah ekspansi masif ini sejalan dengan dominasi pasar mereka yang luar biasa di industri otomotif global.

Hanya dalam empat bulan pertama tahun 2026, grup BYD berhasil menjual lebih dari satu juta unit kendaraan. Angka penjualan luar negeri mereka juga terus memecahkan rekor baru.

Di tengah tren pasar Eropa yang mulai meninggalkan mesin bensin, registrasi EV mencatat kenaikan sebesar 27% pada April lalu. BYD kini siap menangkap peluang pertumbuhan tersebut dengan memanfaatkan sisa-sisa kapasitas pabrik otomotif lama di Eropa.

Artikel terkait

Rekomendasi