Penutupan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada akhir perdagangan Rabu, 29 April 2026. Kondisi pasar saat ini masih berada di bawah tekanan akibat kenaikan tajam harga minyak serta sikap waspada dari bank sentral AS.
Dilansir dari Suara, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 280,12 poin atau sekitar 0,57 persen, sehingga berakhir pada level 48.861,81. Pelemahan ini mencatatkan tren negatif selama lima hari berturut-turut bagi kelompok saham unggulan tersebut.
Koreksi tipis juga terjadi pada indeks S&P 500 yang turun 0,04 persen ke posisi 7.135,95. Sebaliknya, Nasdaq Composite berhasil menguat tipis dengan kenaikan 0,04 persen dan parkir di level 24.673,24 pada penutupan pasar kali ini.
Sentimen negatif utama yang membayangi investor bersumber dari meroketnya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik yang memanas. Presiden Donald Trump dikabarkan telah memerintahkan persiapan blokade jangka panjang terhadap Iran di wilayah Selat Hormuz.
Langkah strategis tersebut diambil untuk menekan tercapainya kesepakatan baru terkait program nuklir negara tersebut. Akibatnya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent melonjak signifikan dalam rentang 6 hingga 7 persen.
Minyak Brent kini menyentuh angka 107,16 dolar AS per barel, sementara WTI berada di kisaran 118,80 dolar AS per barel. Lonjakan harga energi secara mendadak ini kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan laju inflasi global.
Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Dinamika Kepemimpinan
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, memberikan penegasan bahwa melesatnya harga minyak berisiko besar mendorong inflasi dalam jangka pendek. Dalam pertemuan terbaru, Federal Open Market Committee memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.
Suku bunga saat ini dipertahankan pada level 3,5 persen hingga 3,75 persen melalui hasil voting 8-4. Menariknya, ini merupakan momen pertama sejak tahun 1992 di mana terdapat empat anggota dewan yang menyatakan pendapat berbeda dalam pengambilan keputusan suku bunga.
Ketidakpastian pasar semakin bertambah seiring munculnya kabar mengenai suksesi kepemimpinan di bank sentral. Jerome Powell diprediksi akan mengakhiri masa jabatannya pada Mei mendatang, dengan Kevin Warsh muncul sebagai kandidat kuat penggantinya.
Ekspektasi Laba Sektor Teknologi
Di tengah tekanan makroekonomi, fokus investor mulai beralih pada laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa atau Big Tech. Emiten besar seperti Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft dijadwalkan akan merilis performa keuangan mereka segera.
Pasar menaruh harapan tinggi pada efektivitas investasi besar yang telah dikucurkan perusahaan-perusahaan tersebut pada sektor kecerdasan buatan (AI). Proyeksi kinerja laba diharapkan mampu memberikan sentimen positif bagi pergerakan indeks ke depan.
"Kinerja laba kemungkinan besar akan melampaui ekspektasi, namun fokus utama pasar adalah panduan ke depan, baik dari sisi pertumbuhan maupun belanja investasi," ujar Chris Brigati, kepala investasi di SWBC.Meskipun sektor teknologi sempat tertekan, beberapa saham tetap mampu mencatat kenaikan luar biasa. Saham Seagate Technology melesat lebih dari 11 persen, sementara NXP Semiconductors melonjak hingga 25 persen setelah melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar.
Secara keseluruhan, dinamika Wall Street saat ini masih diselimuti ketidakpastian yang berasal dari perpaduan faktor geopolitik, arah kebijakan moneter, serta tingginya ekspektasi terhadap sektor teknologi yang selama ini menjadi penopang utama pasar.