Bursa saham global mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Pergerakan positif ini didorong oleh meredanya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah serta sentimen positif dari sektor teknologi yang melaporkan proyeksi pendapatan melebihi ekspektasi pasar.
Seperti diberitakan oleh Internasional, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,2% sekaligus mengakhiri pelemahan selama empat hari berturut-turut. Lonjakan terbesar terjadi di Korea Selatan dengan indeks KOSPI yang melesat lebih dari 4%.
Kondisi pasar yang membaik dipicu oleh kembalinya sejumlah kapal tanker melintasi Selat Hormuz. Hal ini meredakan kekhawatiran global terkait gangguan pasokan energi.
Di perdagangan Asia, harga minyak mentah Brent tercatat naik 0,7% menjadi US$105,76 per barel. Harga komoditas ini sempat melemah setelah muncul laporan bahwa tiga supertanker berhasil melewati jalur strategis tersebut pada Rabu.
Aktivitas positif juga terlihat di Wall Street dengan indeks S&P 500 yang naik 1,1%. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 1,5% setelah sempat mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS yang menyebut Amerika Serikat siap melanjutkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan damai gagal dicapai. Namun, Trump juga membuka peluang penundaan beberapa hari demi melanjutkan proses negosiasi.
Analis Westpac menilai investor kini merasa lebih tenang. Kondisi tersebut terjadi setelah munculnya sinyal bahwa negosiasi antara AS dan Iran telah memasuki tahap akhir.
Saham perusahaan chip di Asia ikut meroket setelah Nvidia memberikan proyeksi pendapatan yang melampaui perkiraan pasar.
CEO Nvidia Jensen Huang berupaya meyakinkan investor bahwa permintaan terhadap chip kecerdasan buatan (AI) unggulan perusahaan masih akan terus tumbuh kuat.
Kepala riset teknologi global Wedbush Securities, Dan Ives, mengatakan industri chip saat ini masih sangat didominasi Nvidia.
Meskipun demikian, saham Nvidia justru mengalami penurunan 1,1% dalam perdagangan after-hours. Kontrak berjangka S&P 500 juga terpantau melemah 0,5%.
Analis pasar IG di Sydney, Tony Sycamore, menilai reaksi pasar terhadap laporan Nvidia relatif terbatas karena ekspektasi investor yang sudah sangat tinggi sebelumnya.
Menurut analisisnya, absennya prospek penjualan ke China dalam panduan perusahaan membuat sebagian investor mengharapkan lebih banyak katalis positif.
Perkembangan Bursa Asia dan Pasar Obligasi
Di Korea Selatan, harga saham melonjak lebih dari 6% setelah serikat pekerja perusahaan menangguhkan aksi mogok. Keputusan ini diambil usai tercapainya kesepakatan awal terkait kenaikan upah.
Langkah tersebut berhasil menghindari potensi mogok dari hampir 48.000 pekerja. Aksi industrial tersebut sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu ekonomi Korea Selatan dan rantai pasok chip global.
Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,9% meskipun data aktivitas manufaktur menunjukkan perlambatan. Indeks PMI manufaktur Jepang versi awal S&P Global turun menjadi 54,5 pada Mei dari 55,1 pada bulan sebelumnya.
Data terpisah menunjukkan ekspor Jepang naik 14,8% secara tahunan pada April. Catatan ini menandai kenaikan selama delapan bulan berturut-turut sekaligus meredakan kekhawatiran stagflasi global.
Di Australia, bursa saham menguat 1,5% walaupun data ekonomi menunjukkan aktivitas sektor jasa melambat ke level 47,7 pada Mei dari 50,7 sebelumnya. Adapun indeks manufaktur bertahan di level 50,2 yang berarti masih berada di zona ekspansi.
Pada pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 1,9 basis poin menjadi 4,588%.
Risalah rapat Federal Reserve bulan April menunjukkan peningkatan kekhawatiran pejabat bank sentral AS terhadap inflasi. Situasi ini membuat semakin banyak pembuat kebijakan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Untuk aset kripto, Bitcoin terpantau turun 0,3% ke level US$77.453, sedangkan Ether melemah 0,3% menjadi US$2.127.