Bupati Boyolali, Agus Irawan, baru-baru ini memaparkan potensi pariwisata daerahnya yang sangat melimpah, mulai dari keunikan desa-desa hingga objek wisata umbul. Ia menegaskan bahwa Boyolali merupakan salah satu kabupaten dengan wilayah terluas di Jawa Tengah, khususnya di kawasan lereng Gunung Merapi dan Merbabu.
Dalam pemaparannya, Agus memberikan perhatian khusus terhadap rencana pengembangan sektor pariwisata di Kecamatan Selo dan kawasan Waduk Cengklik di Kecamatan Ngemplak. Fokus ini bertujuan untuk memaksimalkan daya tarik alam yang dimiliki Boyolali agar semakin dikenal luas oleh wisatawan.
Masalah Air Bersih di Selo dan Perizinan Waduk Cengklik:
- Kecamatan Selo memiliki daya tarik berupa udara pegunungan yang sangat dingin namun menghadapi kendala serius terkait pasokan air bersih.
- Pelaku usaha pariwisata di Selo terpaksa harus turun gunung dan membeli air untuk memenuhi kebutuhan operasional harian mereka.
- Waduk Cengklik diproyeksikan menjadi satelit pariwisata utama bagi pelancong yang berkunjung ke Kota Solo dan wilayah sekitarnya.
- Pemerintah Kabupaten Boyolali tengah memperjuangkan kelengkapan izin pengelolaan Waduk Cengklik kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.
Agus menjelaskan bahwa koordinasi dengan BBWS Bengawan Solo telah dilakukan secara intensif demi memperlancar proses administrasi tersebut. Namun, hingga saat ini perizinan tersebut belum kunjung tuntas sehingga menghambat rencana pengelolaan yang lebih profesional.
Kawasan Waduk Cengklik dianggap sangat strategis karena lokasinya yang berdekatan dengan Bandara Adi Soemarmo dan Asrama Haji Donohudan. Agus secara terbuka meminta dukungan dari Pemerintah Provinsi agar proses perizinan ini bisa segera rampung untuk kepentingan wisata.
Gangguan Hama Kera di Lahan Pertanian
Selain urusan pariwisata, Bupati Agus juga melaporkan adanya gangguan serius dari serangan monyet ekor panjang yang menyerang lahan pertanian warga. Fenomena ini menyebabkan kerugian bagi para petani karena hasil ladang mereka rusak akibat gangguan satwa tersebut.
Pemerintah Kabupaten Boyolali kini telah mengajukan permohonan penambahan kuota tangkap kera untuk menekan populasi yang sudah tidak terkendali. Menurut Agus, fenomena ini berawal sejak erupsi besar Gunung Merapi pada periode tahun 2010 hingga 2011 silam.
Pada saat itu, kawanan kera turun dari puncak gunung untuk mencari perlindungan dan kemudian menetap serta beranak pinak di pemukiman. Melimpahnya ketersediaan makanan di area bawah membuat kawanan kera tersebut enggan kembali ke habitat asli mereka di hutan atas.
Agus mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa di salah satu desa, jumlah populasi kera hampir melampaui jumlah penduduk manusia. Hal ini memicu keresahan karena interaksi negatif antara manusia dan satwa liar tersebut terus meningkat setiap harinya.
Respons Gubernur Jawa Tengah Terkait Konflik Satwa:
- Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, berjanji akan segera menyurati Kementerian Kehutanan untuk meminta penambahan kuota tangkap kera.
- Penanganan kera ini harus dilakukan dengan hati-hati karena sesuai aturan perlindungan satwa, kera-kera tersebut tidak boleh dibunuh.
- Pemerintah Provinsi akan menambah jumlah pawang ahli untuk membantu menangkap dan mengamankan kawanan kera secara manusiawi.
- Masalah kera ini tidak hanya terjadi di Boyolali, tetapi juga merambah ke wilayah Sukoharjo, Karanganyar, dan daerah lain di sekitar Gunung Merbabu.
Ahmad Luthfi menegaskan bahwa koordinasi lintas sektoral sangat diperlukan mengingat cakupan masalah ini sudah meliputi hampir seluruh wilayah Soloraya. Keberadaan kera di pemukiman warga harus segera ditangani demi keamanan masyarakat dan kelangsungan hasil tani.
Pihak provinsi memastikan akan memberikan pengamanan ekstra dengan melibatkan ahli perilaku satwa agar relokasi kera berjalan efektif. Penanganan ini diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang bagi para petani yang selama ini terdampak serangan tersebut.
Data Ringkasan Program Rembuk Jateng di Boyolali
Tabel berikut menyajikan ringkasan poin utama pembangunan yang dibahas dalam pertemuan tersebut:
| Aspek Pembangunan | Lokasi / Objek | Kendala Utama | Solusi yang Diusulkan |
|---|---|---|---|
| Pariwisata Pegunungan | Kecamatan Selo | Krisis ketersediaan air bersih | Pembangunan infrastruktur saluran air |
| Pariwisata Air | Waduk Cengklik | Hambatan izin dari BBWS | Dukungan perizinan tingkat provinsi |
| Pertanian & Satwa | Kecamatan terdampak | Ledakan populasi kera liar | Penambahan kuota tangkap & pawang |
Tabel di atas merangkum tantangan nyata yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam mengoptimalkan potensi daerahnya. Sinergi antara pemerintah daerah dan provinsi menjadi kunci utama untuk menyelesaikan hambatan teknis maupun administratif tersebut.
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Rembuk Pembangunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Pendapa Alun-alun Kidul Boyolali. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah se-Soloraya untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan masa depan.
Gubernur Ahmad Luthfi menekankan pentingnya mendengarkan aspirasi langsung dari bawah agar arah kebijakan tahun 2027 tepat sasaran. Dengan adanya rembuk ini, diharapkan permasalahan mendasar seperti akses air di Selo dan perizinan wisata bisa segera terselesaikan.