PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kini tengah mempercepat transformasi bisnisnya dengan merambah sektor mineral di luar batu bara. Langkah strategis ini mencakup ekspansi portofolio ke komoditas tembaga, emas, hingga bauksit.
Aksi korporasi tersebut memicu respons positif dari para pelaku pasar modal. Hal ini menyusul intensitas akuisisi yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, seperti dikutip dari Money.
Fokus diversifikasi BUMI semakin terlihat jelas setelah menuntaskan akuisisi penuh terhadap Wolfram, perusahaan tambang konsentrat tembaga, pada November 2025. Sebulan setelahnya, perseroan juga mencaplok tambang emas Jubilee.
Analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, memberikan pandangan bahwa langkah ini akan berdampak langsung pada kinerja keuangan perusahaan dalam waktu dekat. Aset Wolfram dinilai memiliki nilai ekonomi proyek yang sangat kuat.
"Wolfram akan menjadi kontributor laba jangka pendek dengan nilai ekonomi proyek yang jauh lebih baik, didorong oleh aset yang siap untuk diaktifkan kembali dan harga komoditas yang lebih kuat," tulis Kenny.
Operasional tambang Wolfram yang berlokasi di Australia tidak hanya fokus pada tembaga. Fasilitas tersebut juga menghasilkan emas dan perak sebagai produk sampingan dari proses penambangan.
Target produksi konsentrat tembaga dari Wolfram dipatok sebesar 20.000 ton per tahun. Manajemen memproyeksikan operasional komersial tambang ini akan dimulai pada Agustus 2026.
Ekspansi Melalui Jubilee Metals dan Laman Mining
Selain tembaga, BUMI memperkuat posisi di sektor emas dengan menguasai 65 persen saham Jubilee Metals. Tambang ini juga dijadwalkan memulai produksi komersial pada bulan Agustus mendatang.
Kenny Shan menyebutkan bahwa Jubilee memiliki potensi margin yang besar. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai angka 30.000 ons emas setiap tahunnya.
"Jubilee juga merupakan kontributor kinerja keuangan untuk jangka pendek dengan potensi margin yang kuat, didukung oleh sumber daya bermutu tinggi dan peningkatan produksi yang jelas," tutur Kenny.
Struktur laba perusahaan diperkirakan akan mengalami perubahan drastis pada paruh kedua tahun 2026. Hal ini terjadi saat aset-aset mineral baru tersebut mulai memasuki fase produksi aktif.
"Kami memproyeksikan adanya perubahan besar pada laba dari aset mineral mulai semester kedua tahun 2026. Hal ini didorong oleh operasional Wolfram dan Jubilee yang mulai memasuki fase produksi, sehingga menggeser bauran laba secara signifikan," ungkap Kenny.
Rencana Akuisisi dan Target Masa Depan
Diversifikasi BUMI juga menyasar sektor logam industri melalui kepemilikan 45 persen saham di Laman Mining. Perusahaan bauksit ini memiliki cadangan mencapai 30 juta ton dengan target produksi tahunan hingga 6 juta ton.
Perseroan juga tengah menjajaki rencana akuisisi perusahaan asal Australia, Loyal Metals (LLM). Nilai transaksi melalui kesepakatan Scheme Implementation Deed (SID) ini diperkirakan mencapai Rp 977 miliar.
Transformasi ini menandai titik balik BUMI yang sebelumnya sangat bergantung pada batu bara. Perseroan kini dipandang sebagai platform pertambangan yang memiliki bauran pendapatan lebih berkualitas.
"Kami yakin BUMI berada pada titik balik yang jelas, bertransisi dari perusahaan penghasil arus kas dari batubara menjadi platform pertambangan yang terdiversifikasi dengan kualitas pendapatan yang meningkat," jelas Kenny.
Kontribusi EBITDA dari sektor non-batu bara diprediksi akan melonjak signifikan. Dari angka satu digit, kontribusi ini ditargetkan naik menjadi 20 persen pada 2026 dan menyentuh 40 persen di tahun 2027.
BUMI menargetkan keseimbangan kontribusi EBITDA antara batu bara dan non-batu bara dapat tercapai pada 2031. Atas dasar transformasi ini, Sinarmas Sekuritas merekomendasikan beli saham BUMI dengan target harga Rp 290 per lembar.