Ahli Gizi Jelaskan Konsumsi Buah Bukan Penetral Makanan Manis dan Berlemak

Ahli Gizi Jelaskan Konsumsi Buah Bukan Penetral Makanan Manis dan Berlemak
Foto: Ilustrasi Ahli Gizi Jelaskan Konsumsi Buah Bukan Penetral Makanan Manis dan Berlemak.

Praktisi nutrisi dari IPB University mengonfirmasi bahwa anggapan mengenai mengonsumsi buah dapat menetralisir efek makanan manis dan berlemak adalah sebuah kekeliruan pada Minggu (19/4/2026). Penjelasan ini meluruskan persepsi masyarakat yang sering menggunakan buah seperti pir dan semangka sebagai alat penyeimbang setelah menyantap hidangan tinggi kalori.

Data yang dilansir dari Detik Health menunjukkan bahwa pir memiliki Glycemic Index (GI) rendah di kisaran 30-38 dan beban glikemik (GL) antara 4-9 per porsi. Meski kaya akan serat pektin yang memperlambat penyerapan glukosa, pir tetap mengandung 25-27 gram karbohidrat yang akan diubah tubuh menjadi glukosa.

Proses pencernaan tidak bekerja dengan mekanisme pembilasan atau penghapusan nutrisi yang sudah masuk. Ketika buah dikonsumsi setelah makanan manis, gula dari hidangan sebelumnya tetap diserap oleh tubuh, sementara buah justru menambah total asupan karbohidrat baru dalam satu waktu makan.

"Habis Makan Manis, Netralin dengan Pir" ujar Sarjana peternakan dari IPB University.

Narasi ini sering kali didasari oleh kandungan air yang tinggi pada buah tertentu seperti semangka. Namun, lemak dari santan diolah menggunakan enzim lipase dan empedu di usus halus, sehingga air tidak memiliki kemampuan biologis untuk menghapus lemak tersebut.

"Habis Makan Bersantan, Netralin dengan Semangka" kata Sarjana peternakan dari IPB University.

Semangka yang terdiri dari 90 persen air hanya memiliki serat sekitar 0,4 gram per 100 gram, jumlah yang dianggap tidak signifikan untuk memengaruhi pencernaan lemak. Berdasarkan informasi National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, karbohidrat, lemak, dan protein diproses melalui jalur masing-masing secara paralel.

"menyeimbangkan" sebut Sarjana peternakan dari IPB University.

Meskipun serat dapat memperlambat pengosongan lambung, efek tersebut optimal jika serat dikonsumsi bersamaan atau sebagai bagian dari pola makan rutin. Mengonsumsi buah tetap disarankan karena manfaat vitaminnya, namun bukan dalam konteks menebus kesalahan pola makan yang tinggi gula dan lemak.

"mengimbangi" ucap Sarjana peternakan dari IPB University.

Tubuh manusia pada dasarnya memiliki sistem pengaturan dan pembuangan zat yang tidak dibutuhkan secara mandiri. Langkah yang lebih efektif adalah dengan membatasi porsi makanan manis sejak awal daripada mencoba menetralisirnya dengan konsumsi buah setelah makan.

"penetral" tutur Sarjana peternakan dari IPB University.

Kombinasi sumber serat, protein, dan lemak sehat dalam satu waktu makan tetap menjadi kunci utama kesehatan. Pengaturan frekuensi dan porsi makan secara keseluruhan jauh lebih berdampak pada kesehatan jangka panjang dibandingkan ketergantungan pada mitos netralisasi instan.

Artikel terkait

Rekomendasi