PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI membukukan pertumbuhan tabungan tertinggi di industri perbankan nasional yang didorong oleh lonjakan jumlah nasabah haji hingga mencapai 7,25 juta orang pada Rabu, 13 Mei 2026. Sebanyak 1,2 juta dari total pemilik tabungan haji tersebut merupakan kelompok generasi muda.
Pertumbuhan basis nasabah secara signifikan ini terjadi sejak BSI melakukan merger pada Februari 2021 dengan total penambahan 9,26 juta nasabah. Berdasarkan data per kuartal I 2026 yang dilansir dari Investor Daily, jumlah nasabah secara keseluruhan telah menyentuh angka 23,7 juta orang.
Peningkatan jumlah nasabah ini berdampak langsung pada kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18 persen secara tahunan (YOY) menjadi Rp 376,8 triliun. Segmen dana murah atau CASA memberikan kontribusi besar dengan pertumbuhan giro 24,17 persen dan tabungan yang meningkat 20,18 persen.
"Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji," kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo pada paparan kinerja Perseroan Triwulan I 2026.
Data perseroan menunjukkan dominasi BSI di pasar haji nasional dengan pangsa pasar mencapai 53,6 persen pada tahun 2025. Dari total pendaftar haji nasional sebanyak 422,3 ribu orang, lebih dari separuhnya atau sekitar 226,4 ribu orang melakukan pendaftaran melalui kanal BSI.
Keberhasilan ini juga ditopang oleh kemudahan pembukaan rekening melalui platform digital BYOND by BSI. Hingga Maret 2026, total aset BSI melonjak menjadi Rp 460,1 triliun yang menempatkan bank ini dalam jajaran lima besar bank terbesar di Indonesia setelah resmi menyandang status sebagai bank persero.
Penerapan skema dual licence sebagai bank syariah dan bank emas turut mendongkrak inklusivitas perusahaan dengan naiknya jumlah nasabah non-Muslim hingga 12 persen. Selain itu, perseroan melaporkan laba bersih sebesar Rp 2,2 triliun pada kuartal pertama tahun ini.
ÔÇ£Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain. Pada Triwulan I 2026 BSI membukukan laba bersih Rp 2,2 triliun, tumbuh 17,1% (YOY). Kinerja tersebut adalah hasil dari implementasi strategi penurunan biaya dana,penjagaan kualitas pembiayaan serta pertumbuhan pendapatan berbasis fee terutama dari bisnis emas," kata Anggoro Eko Cahyo.
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa komposisi pendapatan berbasis biaya (FBI) terhadap total pendapatan naik menjadi 22,98 persen. Bisnis emas menjadi kontributor utama senilai Rp 705 miliar, diikuti oleh sektor treasury dan layanan kanal elektronik (e-channel).
Dari sisi penyaluran kredit, BSI mencatatkan pembiayaan sebesar Rp 329 triliun dengan fokus pada segmen konsumer. Kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio NPF gross pada level 1,8 persen, membaik jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.
Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menambahkan bahwa perusahaan juga aktif mendukung program ekonomi pemerintah, termasuk penyaluran KUR kepada 17.732 nasabah. BSI juga telah menyalurkan pembiayaan rumah bersubsidi FLPP kepada 894 nasabah pada periode kuartal I 2026.