BSI Dorong Masyarakat Masukkan Simpanan Emas ke Ekosistem Bullion

BSI Dorong Masyarakat Masukkan Simpanan Emas ke Ekosistem Bullion
Foto: Ilustrasi BSI Dorong Masyarakat Masukkan Simpanan Emas ke Ekosistem Bullion.

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI mendorong masyarakat untuk memindahkan simpanan emas pribadi ke dalam ekosistem bullion nasional. Langkah ini bertujuan memperluas inklusi keuangan serta memperkuat sistem keuangan formal berbasis emas di Indonesia, seperti dilansir dari Investortrust pada Selasa (26/5/2026).

Potensi emas yang disimpan secara mandiri oleh masyarakat diperkirakan masih sangat besar. Pengelolaan emas di BSI sendiri telah mencatatkan pertumbuhan signifikan sejak layanan ini resmi berjalan.

"Masih terdapat 1.800 ton potensi emas di masyarakat yang sebenarnya bisa dimasukkan ke dalam ekosistem formal, ekosistem keuangan formal. Ini adalah ekosistem yang kita harapkan ya, ekosistem ideal yang kita harapkan terhadap ekosistem emas itu sendiri," ujar VP Bullion Marketing Strategy BSI, Kinanti Adelin.

Volume emas yang dikelola oleh bank berkode saham BRIS tersebut mengalami kenaikan hingga puluhan persen. Saat ini BSI bersama Pegadaian telah menjadi pelopor institusi bank emas di dalam negeri.

"Gold under management kita atau emas yang berada dalam pengelolaan BSI itu sejak tahun 2024 berada di 16 ton dan saat ini naik 40% di 23,10 ton," kata Kinanti Adelin.

Volume perdagangan emas di BSI juga melesat hampir dua kali lipat dibandingkan akhir tahun lalu dengan perolehan mencapai 4 ton. BSI telah memegang izin usaha bullion untuk tiga jenis layanan emas, dan kini tengah mempersiapkan ekspansi produk berikutnya.

"Memang saat ini kami sedang dalam proses untuk gold financing," ucap Kinanti Adelin.

Melalui produk tabungan emas, akses investasi kini terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat dengan nominal mulai dari Rp 50.000. Jumlah nasabah produk ini sudah menembus angka 1 juta nasabah dengan total emas yang dikelola mencapai 2,8 ton.

Minat investasi dari kelompok generasi muda terpantau mengalami peningkatan yang dipicu oleh kemudahan akses digital. Porsi nasabah dari kalangan muda ini mengalami pertumbuhan dari tahun sebelumnya.

"Kami sudah menyasar ke Gen Z. Dibandingkan tahun sebelumnya, karena kemudahan dalam berinvestasi, anak-anak muda saat ini sudah mulai untuk investasi. Sehingga terjadi kenaikan dari 24% menjadi 32% (porsi Gen Z terhadap seluruh nasabah BSI Emas) di 2025," ujar Kinanti Adelin.

Terkait risiko bisnis, manajemen BSI mengidentifikasi aspek likuiditas sebagai salah satu tantangan utama. Guna memitigasi hal tersebut, bank memastikan ketersediaan fisik emas secara penuh sebelum transaksi dilakukan oleh nasabah.

"Mungkin kalau di emas sendiri itu ada risiko operasional dan risiko likuiditas. Memang risiko likuiditas ini sudah kita mitigasi, karena saat nasabah membeli emas, emas itu sudah dimiliki oleh pihak bank atau BSI," katanya.

Seluruh simpanan emas nasabah dipastikan dijamin satu banding satu dengan ketersediaan fisiknya yang nyata. Sistem penjaminan ini berjalan di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan serta telah memenuhi prinsip syariah.

"Jadi sebelum dibeli oleh nasabah, emas itu sudah dimiliki oleh pihak bank sehingga simpanan nasabah itu dijamin satu banding satu dengan fisiknya," sambung Kinanti Adelin.

Manajemen BSI juga menerapkan tata kelola stok yang ketat untuk mengontrol batas pembelian. Batas transaksi masyarakat akan disesuaikan secara dinamis mengikuti volume cadangan emas yang tersedia di bank.

"Untuk penetapan limit-nya kita juga disesuaikan, kita sudah memiliki stok manajemen yang cukup baik. Jadi ketika kita sesuai dengan prosedur kita, ketika stok itu menipis mungkin kita akan menurunkan limit pembelian dari masyarakat," ucap Kinanti Adelin.

Artikel terkait

Rekomendasi