Bos BRI Imbau Investor Pilih Saham Blue Chip Saat IHSG Terkoreksi

Bos BRI Imbau Investor Pilih Saham Blue Chip Saat IHSG Terkoreksi
Foto: Ilustrasi Bos BRI Imbau Investor Pilih Saham Blue Chip Saat IHSG Terkoreksi.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), Hery Gunardi, menyarankan para investor untuk memprioritaskan kepemilikan saham kategori blue chip di tengah fluktuasi pasar modal pada Kamis (30/4/2026). Langkah ini ditekankan guna menjaga stabilitas portofolio saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan.

Dilansir dari Detik Finance, laju IHSG saat ini mencatatkan koreksi sebesar 1,72 persen yang membawa indeks ke level 6.976,84. Penurunan tersebut turut dipicu oleh sektor finansial, termasuk saham BBRI yang mengalami pelemahan sebesar 1,63 persen ke posisi harga Rp 3.020 per lembar.

Hery Gunardi menegaskan bahwa bagi mereka yang memiliki orientasi investasi jangka panjang, fluktuasi harian indeks tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran berlebih. Penekanan diberikan pada pemilihan instrumen yang memiliki fundamental perusahaan yang solid.

"Belilah saham-saham yang blue chip, yang fundamentalnya bagus seperti BBRI. Maksudnya apa? Anda nggak usah terlalu lihat, karena kita, seperti saya, adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita nggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin tekanan darah naik juga, stresnya naik. Karena investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita," ungkap Hery, Direktur Utama BRI.

Hery menjelaskan bahwa pemilihan saham berkualitas akan memberikan imbal hasil yang pasti melalui pembagian keuntungan tahunan. Meskipun harga pasar sedang dalam kondisi tertekan, emiten besar secara konsisten tetap memberikan apresiasi kepada pemegang sahamnya.

"Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16%, nggak usah dilihat itu, lihat dividend ratio-nya, dan dividen kita kan cukup bagus, paling tidak bisa memberikan antara 10-11% return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito aja mungkin hanya 7%. Kemudian resa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6%," jelas Hery, Direktur Utama BRI.

Sebagai perbandingan performa, meskipun harga saham BBRI terkoreksi lebih dari 17 persen sepanjang tahun 2026, rasio dividen yang diberikan diklaim masih lebih tinggi daripada instrumen deposito maupun reksa dana pasar uang. Hery meyakini minat investor akan kembali pulih seiring membaiknya kondisi ekonomi makro.

"Jadi, itu tipsnya, silakan. Kalau mau berinvestasi jangan lupa, pilih yang blue chip, jangan pilih saham yang tidak blue chip," pungkas Hery, Direktur Utama BRI.

Artikel terkait

Rekomendasi