BPS Bakal Rilis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026

BPS Bakal Rilis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi BPS Bakal Rilis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode kuartal I/2026 pada Selasa (5/5/2026) siang di Jakarta. Laporan ini dilansir dari Ekonomi guna menjawab penantian pelaku pasar terkait keberlanjutan akselerasi ekonomi atau potensi terjadinya moderasi pertumbuhan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme bahwa angka pertumbuhan pada tiga bulan pertama tahun ini akan melampaui capaian kuartal IV/2025 yang tercatat sebesar 5,39 persen secara tahunan (YoY).

"[Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026] lebih besar atau sama dengan 5,5%," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (4/5/2026).

Penilaian positif juga datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memantau aktivitas belanja masyarakat masih stabil di pusat perbelanjaan kawasan Senayan sebagai indikator daya beli yang terjaga. Dia berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan performa impresif di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini.

"Walaupun, let's say, lambat sedikit, atau lebih tinggi sedikit, mengingat kondisi global yang seperti ini, itu sudah prestasi yang luar biasa," kata Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (4/5/2026).

Berbeda dengan optimisme pemerintah, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memprediksi adanya sedikit moderasi secara kuartalan dengan proyeksi pertumbuhan di level 5,3 persen secara tahunan. David mencatat adanya penurunan pada beberapa indikator konsumsi seperti penjualan otomotif yang dipengaruhi oleh jumlah hari kerja yang lebih pendek.

"Beberapa indikator konsumsi menunjukkan perlambatan seperti Intrabel [BCA Consumer Spending Index] serta penjualan mobil dan motor, lebih disebabkan oleh hari kerja yang lebih sedikit. Namun, konsumsi selama ramadan dan lebaran lebih baik dibandingkan tahun lalu," ujar David, Senin (4/5/2026).

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede memproyeksikan angka yang lebih tinggi yakni sebesar 5,44 persen YoY. Menurutnya, dorongan utama pertumbuhan berasal dari sektor konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja yang dilakukan oleh pemerintah.

"Angka ini menunjukkan akselerasi dibandingkan periode sebelumnya dan terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi," ujar Josua, Minggu (3/5/2026).

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky turut memberikan estimasi pertumbuhan pada angka tengah 5,48 persen YoY. Ia menjelaskan bahwa periode Ramadan, Idulfitri, serta pencairan tunjangan hari raya (THR) menjadi pendorong signifikan bagi pendapatan bersih dan konsumsi masyarakat.

"Kombinasi dari berbagai faktor ini dengan efeks basis rendah (low-base effect) dari pertumbuhan PDB di kuartal I/2025, pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2026 diperkirakan akan tumbuh cukup tinggi," jelas Teuku dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Berdasarkan data pendukung, Kementerian Keuangan mencatat belanja pemerintah pada kuartal I/2026 melonjak tajam hingga 31,4 persen YoY mencapai Rp815 triliun. Namun, pada saat yang sama, Kementerian Investasi/BKPM melaporkan realisasi investasi sebesar Rp498,8 triliun mengalami moderasi pertumbuhan dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Artikel terkait

Rekomendasi