BPS: Jumlah Penumpang Pesawat Domestik Turun Drastis di April 2026, Ada Apa?

BPS: Jumlah Penumpang Pesawat Domestik Turun Drastis di April 2026, Ada Apa?
Foto: BPS: Jumlah Penumpang Pesawat Domestik Turun Drastis di April 2026, Ada Apa?. (Illustration by Pexels)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya penurunan tajam pada jumlah penumpang angkutan udara domestik sepanjang April 2026. Penurunan ini tidak hanya terjadi pada sektor penerbangan, melainkan juga menyentuh berbagai moda transportasi lainnya di Indonesia.

Secara keseluruhan, mobilitas masyarakat menggunakan berbagai sarana transportasi menunjukkan tren yang melesu pada bulan tersebut. Data ini mencakup perbandingan kinerja baik secara bulanan maupun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa penurunan volume penumpang ini terlihat pada beberapa sektor utama. Hal ini mencakup transportasi udara domestik, angkutan laut domestik, hingga angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP).

“Namun, jika dilihat dari sisi bulanan, angkutan udara internasional dan moda kereta api justru mengalami grafik peningkatan,” papar Pudji dalam sesi konferensi pers yang digelar pada Selasa (2/6/2026).

Data Penurunan Penumpang Pesawat Domestik

Berdasarkan rincian data BPS, jumlah masyarakat yang menggunakan pesawat untuk rute domestik pada April 2026 hanya mencapai 4,57 juta orang. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 18,72 persen dibandingkan bulan Maret atau secara month to month (MtM).

Jika dibandingkan dengan data April tahun lalu, penurunan tetap terasa signifikan dengan angka mencapai 15,85 persen secara tahunan (YoY). Kondisi ini disinyalir terjadi karena berakhirnya masa puncak arus mudik dan liburan Idulfitri yang pada tahun tersebut jatuh di bulan Maret.

Selain faktor musiman, biaya operasional penerbangan juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri dirgantara pada periode tersebut. BPS mencatat adanya kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur yang cukup signifikan selama bulan April 2026.

Kenaikan harga avtur yang dipublikasikan oleh Pertamina bahkan menembus angka lebih dari 70 persen secara bulanan. Hal ini menjadi tekanan tambahan bagi maskapai di tengah jumlah penumpang yang sedang mengalami tren penyusutan.

Berbanding terbalik dengan kondisi domestik, jumlah penumpang untuk rute internasional justru memperlihatkan pertumbuhan tipis. Tercatat ada 1,56 juta orang yang bepergian ke luar negeri, atau naik sekitar 0,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski secara bulanan tumbuh, angka penumpang internasional ini sebenarnya masih sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Terdapat penurunan tipis sebesar 1,78 persen secara tahunan untuk kategori perjalanan lintas negara ini.

Daftar bandara dengan penurunan penumpang domestik terdalam:

  • Bandara Hasanuddin di Makassar mencatatkan penurunan jumlah penumpang sebesar 13,24 persen.
  • Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang menyusul dengan angka penurunan mencapai 8,66 persen.
  • Bandara Kualanamu di Medan juga mengalami penyusutan jumlah penumpang sebesar 6,36 persen.

Data di atas menunjukkan bahwa penurunan minat atau mobilitas udara terjadi di hampir seluruh pintu masuk utama wilayah Indonesia. Hal ini sejalan dengan melandainya aktivitas perjalanan jarak jauh pasca-libur panjang nasional.

Kondisi Transportasi Laut dan Penyeberangan

Sektor transportasi laut juga tidak luput dari tren penurunan jumlah pengguna jasa selama April 2026. Tercatat hanya 2,93 juta orang yang menggunakan moda angkutan laut domestik, atau turun 6,17 persen dibandingkan bulan Maret.

Dibandingkan dengan capaian pada April tahun sebelumnya, angka ini juga merosot hingga 9,81 persen. Beberapa pelabuhan besar di Indonesia mencatatkan penurunan aktivitas penumpang yang cukup drastis.

Berikut adalah performa penumpang di pelabuhan utama:

Lokasi Pelabuhan Persentase Kenaikan/Penurunan
Pelabuhan Balikpapan Turun 50,81%
Pelabuhan Makassar Turun 11,44%
Pelabuhan Tanjung Priok Turun 4,78%
Pelabuhan Tanjung Perak Naik 225,87%
Pelabuhan Belawan Naik 140,34%

Tabel di atas menunjukkan bahwa meski mayoritas pelabuhan lesu, Pelabuhan Tanjung Perak dan Belawan justru mencatatkan lonjakan penumpang yang luar biasa. Peningkatan ini menjadi pengecualian di tengah tren penurunan secara nasional di sektor laut.

Sementara itu, penurunan yang paling tajam dari seluruh moda transportasi terjadi pada angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP). Jumlah penggunanya merosot hingga 33,54 persen secara bulanan dengan total penumpang hanya 4,69 juta orang.

Secara tahunan, jumlah penumpang ASDP juga anjlok sebesar 24,99 persen dibandingkan kondisi pada April 2025. Penurunan volume ini terpantau merata di seluruh pelabuhan penyeberangan utama yang menjadi objek pengamatan BPS.

Daftar penurunan penumpang di pelabuhan ASDP utama:

  • Pelabuhan Bakauheni mengalami penurunan tertinggi sebesar 41,79 persen.
  • Pelabuhan Merak mencatatkan penyusutan jumlah penumpang hingga 37,34 persen.
  • Pelabuhan Gilimanuk juga terdampak dengan penurunan penumpang mencapai 35,99 persen.
  • Pelabuhan Pototano dan Ketapang masing-masing turun sebesar 27,58 persen dan 10,65 persen.

Angka-angka ini menegaskan bahwa mobilitas penyeberangan antar-pulau mengalami titik rendah setelah masa sibuk lebaran berlalu. Penurunan di Merak dan Bakauheni yang sangat dalam mencerminkan kembalinya pola perjalanan normal masyarakat.

Sektor Kereta Api Tumbuh Positif

Di tengah lesunya mayoritas moda transportasi, kereta api muncul sebagai satu-satunya angkutan massal yang tumbuh positif. Sepanjang April 2026, jumlah penumpang kereta api mencapai 48,28 juta orang, naik 0,30 persen dari bulan sebelumnya.

Pertumbuhan ini terlihat lebih impresif secara tahunan dengan kenaikan mencapai 7,65 persen. Sektor kereta api nampaknya tetap menjadi andalan mobilitas harian bagi masyarakat di berbagai wilayah strategis.

Dominasi penumpang kereta api berasal dari wilayah Jabodetabek, terutama para pengguna KRL atau commuter line. Kelompok penumpang ini berjumlah 30,6 juta orang atau menyumbang 63,35 persen dari total keseluruhan pengguna kereta api.

Peningkatan signifikan juga tercatat pada moda transportasi modern lainnya yang berbasis rel di Indonesia. Hal ini mencakup rute komuter, kereta bawah tanah, hingga kereta cepat yang menghubungkan kota-kota besar.

Rincian pertumbuhan penumpang transportasi rel:

  • Penumpang Jabodetabek mengalami kenaikan sebesar 2,10 persen.
  • Moda MRT mencatatkan pertumbuhan penumpang yang kuat sebesar 11,29 persen.
  • LRT menunjukkan performa positif dengan kenaikan jumlah pengguna sebesar 11,61 persen.
  • Kereta Cepat Whoosh terus diminati dengan peningkatan penumpang sebesar 7,76 persen.

Meskipun moda rel di kawasan urban tumbuh, rute jarak jauh di Jawa non-Jabodetabek justru turun 11,98 persen. Wilayah luar Jawa juga mengalami penurunan serupa sebesar 3,83 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Tren penurunan ini ternyata juga merembet pada layanan kereta khusus yang terintegrasi dengan moda lain. Sejalan dengan anjloknya jumlah penumpang pesawat domestik, pengguna kereta bandara pun merosot sebesar 9,84 persen secara bulanan.

Artikel terkait

Rekomendasi