Bos Besar Perusahaan AS Temui Donald Trump di China Tanpa Kesepakatan Besar

Bos Besar Perusahaan AS Temui Donald Trump di China Tanpa Kesepakatan Besar
Foto: Ilustrasi Bos Besar Perusahaan AS Temui Donald Trump di China Tanpa Kesepakatan Besar.

Lawatan sejumlah pimpinan perusahaan raksasa asal Amerika Serikat (AS) ke China yang mendampingi Presiden Donald Trump belum membuahkan banyak kesepakatan bisnis yang signifikan.

Dikutip dari Reuters, kehadiran para CEO tersebut di Beijing lebih mengarah pada upaya memulihkan jalur komunikasi dan menjaga relasi bisnis di tengah meningkatnya persaingan antara kedua negara.

Nama-nama besar dari berbagai sektor turut hadir, mulai dari Tesla, Nvidia, Apple, Meta, hingga raksasa penerbangan Boeing serta lembaga keuangan Goldman Sachs.

Partisipasi para petinggi perusahaan global ini menegaskan bahwa pasar China tetap menjadi prioritas utama bagi korporasi AS, meskipun hubungan bilateral terus dibayangi konflik teknologi dan ketegangan geopolitik.

Kunjungan kali ini dinilai sangat berbeda dengan kunjungan Trump ke Beijing pada tahun 2017 silam yang berhasil mencatatkan komitmen investasi senilai US$ 250 miliar.

Agenda tahun 2026 ini dipandang lebih sebagai upaya membangun niat baik atau goodwill politik daripada mengejar transaksi komersial berskala besar.

Pendiri Hutong Research, Feng Chucheng, berpendapat bahwa pemerintah China tidak melihat pertemuan tingkat tinggi ini hanya dari kacamata nilai bisnis semata.

"Tujuan utamanya mencari titik aman hubungan kedua negara dan mencegah eskalasi yang tidak terkendali," ujarnya.

Sektor Penerbangan dan Teknologi Masih Terhambat

Meskipun suasana pertemuan terlihat positif, para pelaku usaha masih menanti adanya kepastian regulasi dan akses pasar yang lebih luas di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Salah satu poin yang mengemuka adalah rencana pembelian 200 pesawat dari Boeing oleh pihak China, namun angka ini dinilai mengecewakan pasar yang berharap hingga 500 unit.

Jumlah pesanan tersebut juga mencatatkan penurunan jika dibandingkan dengan pembelian 300 pesawat yang terjadi pada kunjungan kepresidenan sembilan tahun lalu.

Di sisi lain, sektor teknologi belum menunjukkan terobosan berarti, terutama terkait izin penjualan chip AI H200 milik Nvidia ke pasar domestik China yang masih tertahan regulasi ekspor.

CEO Nvidia, Jensen Huang, yang bergabung dalam delegasi di Beijing meski sebelumnya tidak masuk daftar resmi, tidak memberikan banyak detail mengenai progres negosiasi chip tersebut.

"Saya mencintai China dan menikmati kunjungan ini," katanya.

Risiko Kebijakan Keras di Masa Depan

Para analis melihat bahwa Beijing bersikap sangat hati-hati dalam memberikan kesepakatan besar yang bisa dianggap sebagai hadiah politik bagi pihak Washington.

Direktur China The Asia Group, Han Shen Lin, memperingatkan bahwa minimnya hasil nyata dalam kunjungan ini dapat memberikan dampak pada arah kebijakan AS ke depannya.

"Jika Trump tidak mendapat cukup kemenangan untuk dibawa pulang, ada risiko pendekatan yang lebih keras terhadap China kembali menguat," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi