Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi keberhasilan dalam menggagalkan upaya rekrutmen terorisme yang menyasar 112 anak melalui platform game Roblox pada Kamis (30/4/2026). Dilansir dari Detik iNET, para pelaku memanfaatkan fitur komunikasi dalam permainan tersebut untuk melakukan pendekatan terencana guna menyebarkan paham radikal.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengungkapkan bahwa praktik yang disebut sebagai digital grooming ini menggunakan fitur percakapan teks dan suara untuk membangun hubungan dengan calon korban. Pola interaksi tersebut dirancang sedemikian rupa agar anak-anak merasa nyaman dan memiliki kesamaan minat dengan pelaku.
"Fitur chat dan voice chat di Roblox ini dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak. Ini yang kami sebut sebagai digital grooming," ujar Eddy Hartono, Kepala BNPT.
Eddy menjelaskan bahwa proses rekrutmen tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahap pembangunan kedekatan emosional selama sesi permainan berlangsung.
"Mereka berinteraksi, merasa punya hobi yang sama, bahkan saling curhat. Dari situ dibangun empati," jelas Eddy Hartono, Kepala BNPT.
Setelah hubungan tersebut dinilai cukup kuat, para pelaku akan mengarahkan anak-anak untuk berpindah ke aplikasi pesan instan yang lebih tertutup untuk proses indoktrinasi.
"Di tahap berikutnya, mulai dilakukan normalisasi dan penyebaran doktrin radikal. Ini yang sangat berbahaya," kata Eddy Hartono, Kepala BNPT.
Menanggapi temuan yang sudah terdeteksi sejak 2024 ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mendesak pengembang platform untuk memperketat sistem keamanan interaksi antar-pengguna.
"Fitur komunikasi dengan orang asing ini yang menjadi perhatian utama karena berpotensi dimanfaatkan untuk hal-hal berbahaya, termasuk rekrutmen radikalisasi anak," tutur Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.
Sebagai langkah mitigasi, pihak pengembang mulai menerapkan teknologi verifikasi usia bagi pengguna di bawah 16 tahun serta membatasi fitur percakapan demi menekan risiko penyalahgunaan serupa di masa depan.
"Orang tua perlu meningkatkan literasi digital dan mengawasi aktivitas anak saat bermain game. Bukan melarang, tapi memahami risiko yang ada," tanda Eddy Hartono, Kepala BNPT.