BMKG Petakan Pertumbuhan Awan Cumulonimbus di Indonesia Mei 2026

BMKG Petakan Pertumbuhan Awan Cumulonimbus di Indonesia Mei 2026
Foto: Ilustrasi BMKG Petakan Pertumbuhan Awan Cumulonimbus di Indonesia Mei 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peta potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus di sejumlah wilayah Indonesia untuk periode 4-10 Mei 2026. Keberadaan jenis awan ini memerlukan kewaspadaan tinggi karena memicu cuaca ekstrem.

Dilansir dari Caritahu, awan Cumulonimbus merupakan jenis awan yang sangat diwaspadai dalam sektor transportasi. Data dari media sosial resmi BMKG Kualanamu menyatakan bahwa jenis awan ini menyimpan bahaya besar bagi aktivitas penerbangan.

Sektor pelayaran juga menghadapi risiko serupa akibat fenomena meteorologi ini. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menerangkan bahwa awan Cumulonimbus memiliki karakteristik vertikal dan menjulang amat tinggi ke angkasa.

Formasi awan petir ini memiliki batas dasar pada ketinggian 100 hingga 600 meter. Sementara itu, bagian puncaknya dapat menjulang masif hingga mencapai ketinggian 15.000 meter atau menyentuh lapisan tropopause.

Siklus hidup awan yang kerap menjadi penanda hujan lebat ini terbagi menjadi tiga tahapan utama. Fase tersebut meliputi tahapan pertumbuhan, dilanjutkan dengan fase matang, dan diakhiri oleh proses peluruhan.

Kemunculan awan yang memiliki tampilan visual sangat gelap ini membawa sejumlah konsekuensi serius bagi keselamatan operasional transportasi dan aktivitas publik.

BMKG mengidentifikasi beberapa dampak nyata dari awan Cumulonimbus, di antaranya memicu hujan lebat yang mereduksi jarak pandang serta mengganggu proses lepas landas maupun pendaratan pesawat terbang.

Fenomena ini juga menghasilkan kilatan petir dan mendorong lonjakan kecepatan angin secara mendadak disertai perubahan arah yang ekstrem. Kondisi tersebut berpotensi merusak keseimbangan serta menghilangkan gaya angkat pesawat.

Bagi wilayah perairan, awan ini memicu gelombang laut yang sangat tinggi dan berbahaya. Dampak lanjutannya dapat mengakibatkan penundaan jadwal keberangkatan kapal-kapal laut.

Daftar Wilayah Potensi Sebaran Awan

BMKG mengelompokkan area sebaran awan Cumulonimbus berdasarkan persentase cakupan spasialnya di wilayah Indonesia pada tanggal 4 Mei 2026 sampai 10 Mei 2026.

Wilayah dengan cakupan spasial sangat padat atau lebih dari 75 persen (Frequent/FRQ) diprediksi terjadi di Laut Banda, Laut Jawa bagian barat, Laut Jawa bagian tengah, dan Laut Jawa bagian timur.

Kategori cakupan maksimun ini juga berpotensi terbentuk di Laut Maluku, Laut Seram, Maluku, Papua Selatan, Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Kep. Mentawai, Samudra Hindia barat Kep. Nias, serta Samudra Hindia selatan Banten.

Sementara itu, wilayah dengan persentase cakupan spasial maksimum 50-75 persen (Occasional/OCNL) diprediksi melanda area daratan yang mencakup Aceh, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta seluruh provinsi di pulau Kalimantan.

Potensi cakupan spasial 50-75 persen ini juga tersebar di Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku Utara, seluruh wilayah Papua, Riau, seluruh provinsi di pulau Sulawesi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Untuk sektor perairan, kategori cakupan ini diprediksi muncul di Laut Arafuru (bagian barat, tengah, timur, utara), wilayah Laut Banda, Laut Jawa, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Natuna Utara, Laut Sulawesi bagian barat, Teluk Bone, Samudra Pasifik utara Maluku, serta Samudra Pasifik utara Papua dan Papua Barat Daya.

Area perairan lain yang masuk dalam daftar ini adalah Samudra Hindia barat (Aceh, Bengkulu, Kep. Mentawai, Kep. Nias, Lampung), Samudra Hindia selatan (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah), Selat Karimata (bagian selatan dan utara), Selat Makassar (bagian selatan, tengah, utara), serta Selat Malaka (bagian tengah dan utara).

Artikel terkait

Rekomendasi