BFI Finance Perkuat Posisi Pemimpin Pasar Pembiayaan Kendaraan Bekas

BFI Finance Perkuat Posisi Pemimpin Pasar Pembiayaan Kendaraan Bekas
Foto: Ilustrasi BFI Finance Perkuat Posisi Pemimpin Pasar Pembiayaan Kendaraan Bekas.

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) menunjukkan prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan di industri pembiayaan nasional. Potensi besar pada pasar kendaraan bekas di Indonesia menjadi motor utama bagi perseroan untuk terus memperkuat posisi pasarnya.

Dilansir dari Investortrust, kekuatan utama perseroan terletak pada statusnya sebagai pemimpin pasar pembiayaan di luar dealer resmi atau non-dealer financing (NDF). Kapasitas ini didukung oleh jaringan kantor operasional yang merupakan salah satu yang terbesar di tanah air.

Analis Sucor Sekuritas, Yoga Ahmad Gifari, menjelaskan bahwa dominasi BFI Finance di segmen NDF terlihat dari total portofolio pembiayaan yang mencapai Rp 14,2 triliun pada 2022. Angka ini melampaui pencapaian FIF dari grup Astra yang mencatatkan nilai sebesar Rp 12,4 triliun.

"Angka tersebut merefleksikan bahwa BFIN memiliki fundamental yang kuat pada segmen NDF. Dengan dukungan pendanaan yang besar ditambah jaringan distribusi yang luas, tentu hal itu akan memperkuat posisi perseroan sebagai pemimpin pasar pembiayaan NDF," kata Yoga.

Saat ini, BFIN mengoperasikan 280 jaringan yang terdiri dari kantor cabang maupun kantor pembiayaan di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah titik layanan tersebut menempatkan perseroan di posisi kedua terbesar di Indonesia, tepat di bawah PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF).

Selain faktor jaringan, perseroan didukung oleh lebih dari 12 ribu agen pembiayaan. Operasional perusahaan kini juga telah kembali pulih setelah sempat mengalami kendala pada sistem teknologi informasi yang terjadi pada Juni tahun lalu.

Meskipun gangguan tersebut sempat memicu perlambatan aplikasi dan peningkatan biaya, manajemen berhasil menjaga biaya kredit tetap terkendali. Target biaya kredit diproyeksikan berada pada level 3% untuk sepanjang tahun 2023.

"Dengan data tersebut diharapkan laba bersih perseroan akan pulih kuat dalam beberapa kuartal mendatang," tulis Yoga.

Sucor Sekuritas turut menyoroti performa Return on Equity (ROE) BFIN yang tertinggi di antara emiten sektor sejenis. Pada semester I-2023, ROE perseroan tercatat sebesar 21,2%, lebih tinggi dari rata-rata industri yang berada di angka 18%.

Kinerja ROE yang mumpuni ini selaras dengan kemampuan perusahaan menjaga kualitas aset. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) BFIN tetap stabil di bawah 1,2%, sementara rata-rata sektor mencapai 1,7%.

Kontribusi segmen pembiayaan kendaraan non-dealer mencapai 68% dari total penyaluran dana perseroan. Segmen ini diketahui memberikan margin keuntungan yang lebih tebal dibandingkan model pembiayaan lainnya.

Terkait prospek masa depan, Yoga optimis bahwa pasar NDF masih memiliki ruang tumbuh yang sangat luas. Saat ini, BFI Finance baru melayani sekitar 600 ribu unit pembiayaan motor dan mobil bekas setiap tahunnya.

Jumlah tersebut dinilai masih sangat kecil jika dibandingkan dengan populasi kendaraan terdaftar di Indonesia yang mencapai 142 juta unit. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa ceruk pasar kendaraan bekas masih terbuka lebar.

"Data tersebut menggambarkan masih besarnya pasar pembiayaan kendaraan mobil bekas di Indonesia. Selain itu, pembiayaan NDF relatif lebih aman dengan uang muka yang lebih besar," kata Yoga.

Berdasarkan berbagai faktor fundamental tersebut, Sucor Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BFIN dengan target harga di level Rp 1.700. Target ini mengimplikasikan potensi kenaikan harga sekitar 54,54% dari harga penutupan sebelumnya di Rp 1.100.

Target harga tersebut juga didasari pada estimasi kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 1,94 triliun tahun ini. Sementara itu, pendapatan bunga bersih diprediksi melonjak dari Rp 3,13 triliun menjadi Rp 3,81 triliun.

Di sisi lain, Mandiri Sekuritas mencatat adanya perbaikan outlook biaya kredit BFIN pada paruh kedua tahun ini. Meskipun biaya kredit sempat menyentuh 4,1% pada semester I-2023 akibat percepatan penagihan pasca-gangguan IT, angka tersebut diprediksi normal kembali ke level 3%.

Mandiri Sekuritas memproyeksikan ROE jangka panjang perseroan akan terus meningkat, yakni sebesar 24% pada 2024 dan 26% pada 2025. Atas dasar itu, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 1.500 per lembar saham.

Laba bersih tahun ini menurut perkiraan Mandiri Sekuritas akan berada di angka Rp 1,79 triliun. Pendapatan bunga bersih diproyeksikan tumbuh mencapai Rp 3,74 triliun dengan peningkatan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) menjadi Rp 3,01 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi