BEI Pecahkan Rekor Pencatatan Saham Baru Sepanjang Sejarah

BEI Pecahkan Rekor Pencatatan Saham Baru Sepanjang Sejarah
Foto: Ilustrasi BEI Pecahkan Rekor Pencatatan Saham Baru Sepanjang Sejarah.

Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil memecahkan rekor jumlah pencatatan saham baru terbanyak sepanjang sejarah pasar modal Indonesia setelah 66 perusahaan melantai hingga awal Oktober 2023. Pencapaian signifikan ini melampaui catatan tertinggi sebelumnya pada tahun 1990 sekaligus memposisikan BEI sebagai bursa paling aktif kedua di Asia Tenggara.

Hingga akhir pekan pertama Oktober 2023, total emiten baru diproyeksikan mencapai 68 perusahaan dengan total himpunan dana sebesar Rp 49,60 triliun, dilansir dari Investortrust. Secara global, intensitas pencatatan saham di Indonesia menempati peringkat kelima dunia sepanjang tahun berjalan.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, mengungkapkan bahwa dua perusahaan baru yakni PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) dan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF) resmi melantai pada Jumat (6/10/2023). Hal ini membawa total emiten yang tercatat di bursa kini mencapai 890 perusahaan.

"Untuk skala global, kita nomor 5 terbanyak dunia dari sisi jumlah perusahaan tercatat sepanjang tahun ini," papar Iman.

Terkait kondisi pasar, Iman menjelaskan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh rekor tertinggi di level 7.318 pada September 2022. Namun, tekanan inflasi global dan kenaikan suku bunga kemudian memicu tren penurunan nilai kapitalisasi pasar ke kisaran Rp 10.000 triliun.

"Saat ini kapitalisasi pasar kita sekitar Rp 10.000 triliun," papar Iman.

Penurunan tersebut juga berdampak pada aktivitas transaksi harian yang sempat merosot dari angka tertinggi Rp 14,7 triliun. Meski demikian, aktivitas pasar mulai menunjukkan pemulihan dengan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) yang merangkak naik ke angka Rp 10,5 triliun.

"Tapi penurunan ini bukan hanya terjadi di pasar modal kita, tapi juga terjadi di seluruh bursa saham dunia," terang Iman Rachman.

BEI juga memperketat seleksi calon emiten dengan mencoret sekitar 30 persen dari total pengajuan listing demi menjaga kualitas keberlanjutan. Langkah ini diambil untuk melindungi jutaan investor yang saat ini didominasi oleh generasi muda di bawah usia 30 tahun.

"Pertama-tama saat menjabat sebagai direksi BEI, kami kualitas emiten yang masuk bursa menjadi perhatian kami, karena memang hal tersebut bertujuan untuk menjaga kepercayaan investor bertransaksi," kata Iman.

Bursa kini mewajibkan adanya laporan riset bagi calon emiten sebagai bahan penilaian bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengawasan ketat juga diberlakukan melalui mekanisme suspensi jika terjadi pergerakan harga saham yang tidak wajar.

"Dari 66 emiten perusahaan yang listing hingga saat ini (4/10/2023) setara dengan 70% dari jumlah emiten yang mengajukan listing. Artinya sebanyak 30% perusahaan yang berniat listing tidak disetujui dengan alasan suistainibilitas," terangnya.

Sebagai solusi perlindungan nilai bagi investor saat harga pasar menurun, bursa berencana meluncurkan produk single stock future pada kuartal pertama tahun depan. Produk derivatif ini diharapkan menjadi alat lindung nilai yang efektif bagi para pemodal.

"Kita sadar bahwa ada 11 juta investor dan terdiri atas 5 juta investor saham. Jangan sampai investor tersebut kapok bertransaksi di pasar modal ke depan," terangnya.

Iman berharap ketersediaan instrumen investasi yang lebih beragam dapat memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia. Kehadiran produk baru ini diproyeksikan memberikan fleksibilitas lebih bagi strategi investasi masyarakat.

"Mudah-mudahan derivatif ini bisa diluncurkan pada kuartal I-2024. Single stock future akan menjadi alat hedging maupun alternatif investasi bagi investor," kata dia.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmadi, menyebutkan mayoritas perusahaan baru berasal dari Jawa bagian barat dengan dominasi sektor Consumer Cyclicals. Saat ini, masih terdapat 28 perusahaan dalam antrean pipeline untuk mencatatkan saham di bursa.

"BEI berharap akan semakin banyak perusahaan yang mempercayakan pertumbuhan dan perkembangannya melalui pendanaan di pasar modal Indonesia dari berbagai sektor dan ukuran Perusahaan," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat, memaparkan total investor produk keuangan nasional telah menyentuh angka 15,86 juta SID. Peningkatan sebesar 12,62 persen secara tahun berjalan ini mencakup investor pasar modal sebanyak 11,73 juta orang.

"Total SID yang sudah di-produced itu sekitar 15,86 juta. Dari angka ini, investor pasar modal sebanyak 11,73 juta (tumbuh 13,76% ytd)," kata Samsul Hidayat.

Samsul merinci bahwa nilai aset yang tercatat di sistem C-BEST mencapai Rp 7.128 triliun. Dari sisi demografi, meskipun jumlah investor didominasi anak muda, nilai aset terbesar masih dikuasai oleh kelompok usia di atas 60 tahun.

"Nilai pemindahbukuan efek tercatat sekitar Rp 4.201,49 triliun (turun 0,20% ytd). Sedangkan frekuensi distribusi tindakan korporasi, yang juga kami urusi kegiatan korporasi misalnya pembagian dividen, corporate action, dan stock split, sekitar 5.940 kali," ucapnya.

Samsul menambahkan bahwa total nilai kelolaan atau AUM reksa dana saat ini tercatat sebesar Rp 769 triliun. Terkait operasional Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), KSEI telah membuka 17 SID bagi pelaku pasar sejak resmi diluncurkan oleh Presiden pada 26 September lalu.

"Kemudian, AUM reksa dana sekitar Rp 769 triliun. Itu angka-angka yang tercatat saat ini di sistem KSEI," imbuhnya.

Penyebaran investor saat ini masih terpusat di Pulau Jawa sebesar 68 persen, diikuti Sumatra 16 persen dan Kalimantan 5 persen. KSEI optimis pertumbuhan investor akan semakin proporsional seiring dengan pengembangan wilayah di luar Jawa.

"Kalau lihat dari demografi investornya, saya lihat yang paling banyak jumlahnya saat ini adalah di bawah 30 tahun. Tapi kalau dilihat dari nilai asetnya, yang paling besar investor berumur di atas 60 tahun," kata Samsul.

Terkait mekanisme transaksi di bursa karbon, Samsul menjelaskan telah ada 18 frekuensi dana masuk dengan nilai Rp 30,98 miliar. Transaksi ini melibatkan perusahaan efek, bank, dan perusahaan umum sebagai partisipan awal.

"Dari data yang ada saat ini sudah ada 17 SID yang dibuka. Yang terdiri dari 2 perusahaan efek (SC), 4 bank (IB), dan 11 perusahaan (CP)," kata Samsul Hidayat.

Sistem perdagangan karbon dirancang untuk menyediakan transparansi harga dan efisiensi melalui empat mekanisme utama. Proses penyelesaian transaksi karbon dilakukan melalui koordinasi antara KSEI, BEI, dan Bank Indonesia.

"Ini masih rupiah semua," jelas dia.

Artikel terkait

Rekomendasi