BCA Tegaskan Kinerja Tetap Solid Usai MoodyÔÇÖs Turunkan Outlook Lima Bank Jumbo

BCA Tegaskan Kinerja Tetap Solid Usai MoodyÔÇÖs Turunkan Outlook Lima Bank Jumbo
Foto: Ilustrasi BCA Tegaskan Kinerja Tetap Solid Usai MoodyÔÇÖs Turunkan Outlook Lima Bank Jumbo.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA menegaskan kinerja fundamentalnya tetap berada dalam kondisi solid. Manajemen memastikan kualitas kredit perseroan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang stabil di tengah sorotan lembaga pemeringkat kredit MoodyÔÇÖs Ratings, dikutip dari Investortrust.

Langkah penegasan ini muncul setelah MoodyÔÇÖs Ratings menurunkan outlook lima bank jumbo di Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan tersebut berdampak pada BCA serta empat bank besar milik BUMN.

ÔÇ£Kami sebagai pelaku industri perbankan fokus pada fundamental performance kami. Teman-teman bisa lihat bagaimana NPL kami sangat terjaga, bisnis berjalan dengan sangat baik,ÔÇØ ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Sebelumnya, MoodyÔÇÖs menyoroti laju pertumbuhan kredit BCA yang dinilai relatif kencang, sehingga berpotensi memicu peningkatan risiko kredit pada masa mendatang. Menanggapi pandangan tersebut, pihak BCA menilai kekhawatiran yang disampaikan tidak berlebihan karena setiap penyaluran permodalan telah menerapkan prinsip kehati-hatian.

ÔÇ£Kredit yang kami berikan sudah melewati proses yang prudence. Kami tetap menjaga postur loan growth berada pada proses yang sehat, prudential, dan comply,ÔÇØ kata Hera.

Berdasarkan data keuangan hingga Desember 2025, total penyaluran kredit BCA tumbuh 7,7% secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 993 triliun. Sepanjang tahun 2025, rata-rata pertumbuhan kredit perseroan menyentuh angka 10,8% yang dialokasikan ke berbagai sektor strategis, termasuk manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga sektor rumah tangga.

Manajemen BCA menyatakan bahwa penilaian dari Moody's tidak membawa dampak material terhadap operasional bisnis maupun permintaan kredit dari nasabah. Hubungan komunikasi dengan lembaga pemeringkat internasional tersebut juga dipastikan tetap terjalin dengan baik.

ÔÇ£Sejauh ini relasi kami sangat baik. Penilaian itu dilakukan dalam konteks makro ekonomi. Kami tidak merasakan ada efek apapun,ÔÇØ tegasnya.

Guna memperkuat basis bisnis, BCA terus meluncurkan inovasi produk secara agresif. Salah satu langkah terbarunya adalah menghadirkan Ocean by BCA, sebuah platform terintegrasi all in one yang dirancang khusus untuk nasabah bisnis dan pelaku UMKM.

Platform digital ini berfungsi meningkatkan efisiensi operasional pelaku usaha melalui penyediaan fitur transaksi, analisis bisnis, hingga pengelolaan payroll dan HR dalam satu sistem tunggal.

ÔÇ£Biasanya bicara UMKM naik kelas, tapi how to-nya kadang masih jadi pertanyaan. Ocean by BCA memberikan fasilitas sesuai stage masing-masing UMKM agar benar-benar bisa naik kelas,ÔÇØ jelas manajemen.

Manajemen perseroan tetap optimistis melihat prospek bisnis perbankan domestik yang didorong oleh potensi pasar yang besar di dalam negeri.

ÔÇ£Kami merasa optimisme masih sangat besar. Di negara dengan 280 juta jiwa yang konsumtif, optimisme akan tetap tumbuh, dan kami confidence terhadap fundamental BCA,ÔÇØ ungkap Hera.

MoodyÔÇÖs Ratings secara resmi mengubah prospek lima bank raksasa di Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Jumat (6/2/2026). Keputusan ini diambil menyusul langkah revisi terhadap outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia yang diumumkan satu hari sebelumnya, meski peringkat kredit masing-masing bank masih dipertahankan.

Daftar lima lembaga keuangan yang mengalami perubahan pandangan tersebut meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Dalam laporannya, MoodyÔÇÖs mempertahankan peringkat penerbit Pemerintah Indonesia pada level Baa2 dengan revisi outlook menjadi negatif. Lembaga tersebut menyoroti adanya penurunan prediktabilitas serta koherensi dalam perumusan kebijakan, ditambah komunikasi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang efektif selama setahun terakhir. Jika tren ini berlanjut, stabilitas ekonomi, fiskal, dan sektor keuangan nasional berisiko mengalami tekanan.

"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan outlook negatif atas peringkat sovereign Indonesia di level Baa2. Hal ini mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia, yang terlihat dari menurunnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif selama setahun terakhir," tulis Moody's dalam keterangan resminya.

Artikel terkait

Rekomendasi