Berbagai ancaman kejahatan siber dengan modus phishing hingga social engineering mendorong PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA untuk semakin intensif meningkatkan sistem pengamanan korporasi.
Langkah proteksi digital ini diimbangi dengan komunikasi aktif bersama nasabah korban kejahatan serta pelaksanaan investigasi mendalam terhadap setiap kasus siber yang muncul, seperti dilansir dari Investortrust.
SVP IT Security BCA Ferdinan Marlim memaparkan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi pondasi dasar perusahaan dalam memproteksi jaringan dan menangkal serangan daring seperti phishing, Distributed Denial of Service (DDoS), dan Social Engineering.
Tiga elemen esensial tersebut mencakup aspek manusia (people), proses (process), dan teknologi (technology).
"(Pada aspek people) BCA selalu menyosialisasikan awareness kepada karyawan, manajemen, dan direksi dengan terus-menerus mengingatkan tentang bahaya (phishing dan modus kejahatan siber lain). Karena tahu phishing itu berbahaya, kami melakukan simulasi untuk mengetes para karyawan, melihat berapa banyak orang yang mengeklik dan terpancing situs palsu dalam simulasi" kata Ferdinan dalam keterangan yang diterima, Jumat (13/2/2026).
Uji coba internal tersebut sengaja digelar demi mengukur sejauh mana pemahaman jajaran staf terhadap risiko modus penipuan digital, yang kemudian disusul dengan program edukasi berkelanjutan agar tingkat kewaspadaan karyawan meningkat.
Pengembangan kapasitas tim pengamanan siber internal juga diwujudkan melalui kepemilikan sertifikasi kompetensi serta adopsi kerangka kerja internasional.
Beberapa panduan yang diadopsi merujuk pada National Institute of Standards and Technology (NIST) Cybersecurity Framework (CSF) yang berfokus pada tata kelola risiko strategis meliputi tahap mengenali (identify), melindungi (protect), mendeteksi (detect), menanggapi (respond), memulihkan (recover), dan mengatur (govern).
"(Pada aspek technology) Kami juga mengambil sertifikasi-sertifikasi ISO yang terkait keamanan sistem informasi, termasuk untuk jasa pembayaran dan privacy data. Semua kami ikuti agar proses di BCA itu pengelolaannya baik" ujar Ferdinan.
BCA mengoperasikan Security Monitoring Center yang bertugas memantau perimeter keamanan siber perusahaan tanpa henti selama 24 jam penuh.
Penguatan lini teknologi diperkokoh dengan sistem proteksi berlapis guna menutup celah masuk bagi pelaku kriminal, didukung oleh alokasi sumber daya finansial yang signifikan demi pertahanan siber.
Pada aspek proses (process), emiten perbankan ini memastikan seluruh alur transaksi berjalan ketat sesuai regulasi internal yang berlaku.
BCA menerapkan prosedur penanganan keluhan secara responsif bagi nasabah yang terdampak kejahatan siber melalui serangkaian tindakan penanganan sistematis.
Proses penanganan dimulai dengan investigasi menyeluruh dan validasi atas laporan yang masuk sebelum memberikan bantuan optimal bagi korban.
BCA juga menjalin komunikasi dengan institusi keuangan lain apabila dana korban terdeteksi telah dialihkan ke rekening di luar ekosistem perbankan BCA.
"Apalagi, pelaku biasanya sudah andal dan langsung mengirim dana yang diambil dari nasabah ke bank lain, untuk kemudian dananya ditarik" kata SVP Wholesale Transaction Banking Product Development BCA Martinus Robert Winata.
Robert mengingatkan masyarakat agar senantiasa berhati-hati dan tidak terjebak oleh alamat situs palsu saat berselancar di mesin pencari, serta melarang keras pembagian data sensitif kepada pihak manapun.
Manajemen menegaskan bahwa bank tidak pernah meminta informasi rahasia nasabah seperti nomor PIN, kode appli 1 dan appli 2 KeyBCA, maupun kata sandi.
Pengguna layanan digital seperti Klik BCA Bisnis diharapkan memahami mekanisme transaksi secara benar, terutama kegunaan fitur appli 1 dan appli 2 pada perangkat token.
Permintaan input kode untuk memunculkan One-Time Password (OTP) dari appli 2 mengindikasikan adanya aktivitas otentikasi transaksi keuangan yang sedang berjalan.
Oleh karena itu, nasabah wajib menjaga kerahasiaan kode appli 2 tersebut dan tidak membagikannya kepada orang lain.
"Kami juga mengimbau perusahaan atau pengguna Klik BCA Bisnis untuk menggunakan fungsi user sebagaimana mestinya. Idealnya, terdapat double control melalui Maker dan Releaser. Kami mengimbau nasabah tidak menitipkan fungsi dan peran user hanya kepada satu orang, sehingga fungsi double control hilang" ujar Robert.
Pihak manajemen juga memastikan bahwa tidak ada satu pun tautan menuju situs web tiruan yang terdapat pada platform digital resmi milik korporasi.