PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengumumkan perolehan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 14,7 triliun pada kuartal I 2026. Pencapaian yang dirilis pada Kamis (23/4/2026) ini menunjukkan kenaikan 3,8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 14,1 triliun.
Kenaikan laba tersebut didorong oleh pendapatan nonbunga yang menyentuh angka Rp 6,6 triliun atau tumbuh 14,2 persen secara tahunan sebagaimana dilansir dari Money. Sementara itu, pendapatan bunga bersih perusahaan berada pada posisi Rp 21,1 triliun dan pendapatan asuransi bersih mencapai Rp 0,1 triliun.
"Total laba BCA dan entitas anak mencapai Rp 14,7 triliun," ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam konferensi pers virtual.
Pendapatan operasional BCA secara keseluruhan tercatat tumbuh 3,3 persen menjadi Rp 27,8 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Di sisi lain, perseroan mampu menjaga efisiensi dengan biaya operasional yang hanya naik tipis 0,1 persen menjadi Rp 8,5 triliun.
Sektor pembiayaan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, terutama didorong momentum Ramadan dan Idul Fitri. Penyaluran kredit total mencapai Rp 994 triliun, meningkat 5,6 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Hendra Lembong merincikan bahwa segmen produktif menyumbang kredit sebesar Rp 760,2 triliun dengan pertumbuhan 7,8 persen. Penyaluran kredit pada segmen UMKM bahkan melaju lebih cepat dengan pertumbuhan 12 persen hingga mencapai nilai Rp 146 triliun.
BCA juga memperluas portofolio sektor berkelanjutan yang tumbuh 10 persen menjadi Rp 258,4 triliun. Angka ini mencakup kredit hijau senilai Rp 113 triliun serta pembiayaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang melonjak hingga 53,5 persen.
"Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden," ucap Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA.
Pada aspek pendanaan, perusahaan mencatat pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 11,2 persen menjadi Rp 1.089 triliun. CASA mendominasi 85,2 persen dari total dana pihak ketiga yang secara keseluruhan berjumlah Rp 1.292,4 triliun.
Kualitas aset tetap terkendali dengan rasio kredit bermasalah (NPL) pada level 1,8 persen dan rasio loan at risk (LAR) sebesar 5,1 persen. Kekuatan finansial ini juga didukung oleh rasio pencadangan NPL yang berada di level 174,6 persen dan coverage LAR mencapai 69,7 persen.