Sejumlah bank syariah di Indonesia membukukan peningkatan signifikan pada bisnis emas di tengah tren fluktuasi harga logam mulia. Kenaikan permintaan tersebut didorong oleh minat masyarakat yang tetap tinggi terhadap aset aman, seperti dilansir dari Keuangan.
Data dari laman resmi logammulia.com menunjukkan harga emas Antam berada di posisi Rp 2.769.000 per gram setelah mengalami penurunan sebesar Rp 50.000 pada Sabtu (16/5/2026). Penurunan harga ini tidak menyurutkan aktivitas investasi emas di perbankan syariah.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat lini bisnis emas menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan fee based income (FBI). Kontribusi FBI terhadap total pendapatan perbankan tersebut naik menjadi 22,98% hingga kuartal I-2026.
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa bisnis emas memberikan sumbangan terbesar terhadap FBI dengan porsi mencapai 33,69% atau sekitar Rp 705 miliar. Jumlah tersebut memperlihatkan lonjakan sebesar 125% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Strategi yang ingin kita jalankan adalah memberikan akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia untuk dapat memiliki dan mulai menabung emas," ujar Ade saat paparan kinerja pada Selasa (12/5/2026).
Pihak manajemen menekankan pentingnya edukasi agar nasabah menjadikan logam mulia sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang, bukan sekadar alat spekulasi jangka pendek. Pertumbuhan ini tercermin dari pembiayaan gadai emas yang naik 58,3% secara tahunan dan layanan digital E-mas yang tumbuh di atas 2.700% lewat aplikasi BYOND.
"Affordability issue yang dihadapi masyarakat Indonesia bisa kita solve," kata Ade.
Kemudahan transaksi melalui aplikasi digital tersebut memungkinkan nasabah membeli emas mulai dari Rp 50.000 tanpa perlu mendatangi kantor cabang. Melalui strategi tersebut, jumlah nasabah penabung emas di BSI kini telah melewati angka 1 juta nasabah.
Peningkatan pembiayaan emas juga dibukukan oleh PT Bank BCA Syariah. Hingga bulan April 2026, realisasi pembiayaan murabahah emas di anak usaha BCA ini melesat hingga 152,8% secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 748 miliar.
"Pembiayaan emas masih memiliki peluang yang baik di tahun 2026, selaras dengan pandangan masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi jangka panjang," ujar Yuli Melati Suryaningrum, Presiden Direktur BCA Syariah.
Manajemen BCA Syariah menerapkan strategi perluasan pasar melalui kerja sama dengan mitra penyedia emas tepercaya serta sinergi dengan induk usaha. Selain itu, keikutsertaan dalam berbagai pameran terus digalakkan guna mendongkrak literasi keuangan nasabah terkait pembiayaan emas.