PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) merombak susunan pengurus dan menetapkan pembagian dividen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta pada Rabu (29/4/2026). Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat struktur organisasi sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.
Sebagaimana dilansir dari Finansial, pemegang saham menyetujui pemberhentian dengan hormat Muhammad Yusuf Ateh dari kursi Komisaris. Selain itu, RUPST memberikan mandat kepada Timothy Utama untuk kembali menjabat sebagai Direktur Operations dalam struktur direksi yang baru.
Perubahan pengurus ini mencakup penetapan sejumlah nama di jajaran dewan komisaris dan direksi. Berikut adalah rincian susunan lengkap jajaran pengurus Bank Mandiri hasil keputusan RUPST tersebut:
| Jabatan | Nama Pengurus |
|---|---|
| Komisaris Utama/Independen | Zulkifli Zaini |
| Wakil Komisaris Utama | Rudy Salahuddin Ramto |
| Komisaris | Luky Alfirman |
| Komisaris | Yuliot |
| Komisaris Independen | Mia Amiati |
| Komisaris Independen | Bintoro K. Pardewo |
| Direktur Utama | Riduan |
| Wakil Direktur Utama | Henry Panjaitan |
| Direktur Operations | Timothy Utama |
| Direktur Risk Management | Danis Subyantoro |
| Direktur Commercial Banking | Totok Priyambodo |
| Direktur Corporate Banking | Mochamad Rizaldi |
| Direktur Consumer Banking | Saptari |
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, memberikan penegasan mengenai arah kebijakan perusahaan dengan formasi baru ini. Pihaknya menaruh harapan besar pada sinergi tim untuk mempertahankan tren pertumbuhan perseroan.
"Susunan pengurus terbaru kami yakini akan mampu berkolaborasi secara aktif meneruskan kinerja solid yang telah dibukukan serta memenuhi amanat pemegang saham," ujar Riduan, Direktur Utama Bank Mandiri.
Penetapan pengurus baru ini akan mulai berlaku efektif setelah mendapatkan persetujuan hasil uji kemampuan dan kepatutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di samping perubahan personel, perseroan memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp44,47 triliun atau 79 persen dari total laba bersih tahun buku 2025.
Rasio pembayaran tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah perusahaan, di mana Rp9,3 triliun telah disalurkan sebagai dividen interim pada Januari 2026. Pemegang saham akan menerima sisa dividen dengan nilai total per saham mencapai Rp476,95.
Perseroan juga mendapatkan lampu hijau untuk melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp1,17 triliun. Program buyback ini dijadwalkan berlangsung dalam periode 12 bulan setelah mendapatkan izin rapat.
Keputusan-keputusan besar ini didasari oleh pencapaian laba bersih konsolidasi tahun 2025 yang menembus Rp56,3 triliun. Tren positif tersebut terus berlanjut hingga kuartal I/2026 dengan perolehan laba Rp15,4 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 16,6 persen secara tahunan.