PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 19 persen secara tahunan menjadi Rp18,1 triliun per April 2026, seperti dilansir dari Investor Daily pada Senin (25/5/2026). Pencapaian moncer emiten perbankan pelat merah tersebut berada di atas perolehan laba PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Berdasarkan data riset Verdhana Sekuritas, perolehan keuntungan bersih Bank Mandiri pada bulan April 2026 sendiri melonjak 14 persen mencapai Rp4,8 triliun. Akumulasi laba selama empat bulan pertama ini telah memenuhi 31 persen dari total proyeksi setahun penuh yang ditetapkan oleh lembaga sekuritas tersebut.
Indikator efisiensi operasional menopang laju pertumbuhan performa finansial perseroan secara signifikan sepanjang periode berjalan. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) dilaporkan menyusut dari angka 42 persen menjadi 35 persen.
"Hasil impresif itu disebabkan NIM yang stabil sebesar 4%, imbal hasil aset 5,9%, dan penurunan biaya pendanaan 50 bps menjadi 2,2%. Selain itu, CIR turun menjadi 35% dari 42%," tulis Verdhana, dikutip Senin (25/5/2026).
Sektor pendapatan bunga bersih Bank Mandiri turut mengalami kenaikan sebesar 6 persen menjadi Rp6,7 triliun khusus pada April 2026. Alhasil, agregat pendapatan bunga bersih hingga bulan keempat terkumpul sebanyak Rp27,9 triliun atau setara 24 persen dari target proyeksi.
Kinerja ekspansi kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan masing-masing tumbuh sebesar 18 persen dan 17 persen pada April 2026. Sementara itu, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) merangkak naik 150 bps ke level 93,8 persen, dengan estimasi pertumbuhan kredit setahun penuh berada pada kisaran 7-9 persen.
Verdhana Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BMRI dengan menetapkan target harga pada level Rp6,000 per lembar saham berdasarkan perhitungan analisis DuPont. Valuasi target harga tersebut merefleksikan nilai Price to Book Value (PBV) sebesar 1,7 kali dan Price Earning Ratio (PER) senilai 9,7 kali.