PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan kode saham BMRI telah menyetujui pendistribusian dividen tunai dalam jumlah fantastis. Keputusan ini diambil melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026.
Total nilai dividen yang akan dikucurkan mencapai sekitar Rp44,47 triliun. Angka tersebut mencerminkan sekitar 79% dari perolehan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025.
Dilansir dari Info, langkah strategis ini merupakan bentuk komitmen manajemen dalam memberikan imbal hasil optimal kepada investor. Hal ini sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas kinerja bank berlogo pita emas tersebut.
Dana dividen tersebut bersumber dari perolehan laba bersih Bank Mandiri sepanjang tahun 2025 yang menembus Rp56,3 triliun. Manajemen memutuskan mengalokasikan 79% sebagai dividen tunai kepada pemilik saham.
Sementara itu, sisa laba sebesar 21% atau setara Rp11,82 triliun akan digunakan sebagai laba ditahan. Dana ini dipersiapkan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan di masa depan.
Sebelumnya, perseroan telah membayarkan dividen interim sebesar Rp9,32 triliun atau Rp100 per saham pada Januari 2026. Dengan demikian, sisa dividen yang masih akan dibayarkan mencapai lebih dari Rp35 triliun.
Fundamental Keuangan sebagai Penopang
Pembayaran dividen skala besar ini didasari oleh kondisi fundamental keuangan Bank Mandiri yang sangat sehat. Berbagai indikator keuangan menunjukkan performa yang solid sepanjang tahun lalu.
Bank Mandiri mencatatkan Return on Equity (ROE) di level sekitar 17% dengan Net Profit Margin (NPM) melampaui 34%. Selain itu, total ekuitas perusahaan tercatat berada di atas angka Rp327 triliun.
Capaian ini semakin mengukuhkan posisi Bank Mandiri sebagai salah satu institusi perbankan dengan tingkat profitabilitas tertinggi di pasar domestik.
Dampak Kebijakan bagi Investor
Penerapan dividend payout ratio (DPR) yang tinggi menjadi daya tarik utama bagi para investor. Kebijakan ini menyasar pemegang saham yang memburu pendapatan pasif dari sektor perbankan.
Selain memberikan nilai tambah langsung, pembagian laba yang konsisten menunjukkan tata kelola perusahaan yang baik. Stabilitas bisnis tetap terjaga meski porsi pembagian laba cukup besar.
Manajemen memastikan bahwa meskipun dividen yang ditebar berjumlah jumbo, perusahaan tetap memiliki cadangan modal yang cukup. Laba ditahan akan difokuskan untuk mendukung rencana ekspansi bisnis mendatang.