PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menyepakati pembagian dividen senilai Rp 850 miliar dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025 di Surabaya pada Rabu (6/5/2026). Selain pembagian laba, perseroan juga melakukan perubahan nomenklatur organisasi dan mengangkat sejumlah pengurus baru di jajaran dewan komisaris serta direksi.
Nilai dividen yang dibagikan setara dengan Rp 56,62 per lembar saham, mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 54,71 per lembar saham. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, total dividen tersebut merepresentasikan 55 persen dari perolehan laba bersih perseroan sepanjang tahun buku 2025.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi terhadap capaian finansial perseroan yang dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan secara konsisten di tengah dinamika ekonomi. Ia menekankan pentingnya fungsi intermediasi dan keseimbangan antara ekspansi serta kualitas layanan perbankan daerah tersebut.
"Kinerja keuangan Bank Jatim sepanjang tahun 2025 menunjukkan capaian yang patut diapresiasi, tercermin dari pertumbuhan aset, peningkatan penyaluran kredit, serta penguatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menunjukkan kemampuan dalam menjaga momentum pertumbuhan secara konsisten," kata Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan tertulis, Rabu (6/5/2026).
Khofifah juga meminta manajemen untuk mempercepat transformasi digital dan memperkuat ekosistem di daerah guna mengoptimalkan potensi produk syariah serta pembiayaan sektor UMKM. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi bank sebagai penggerak utama ekonomi di wilayah Jawa Timur.
"Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan Bank Jatim tidak hanya tumbuh secara kinerja, tetapi juga semakin kuat dalam memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah," tegasnya.
Mantan Menteri Sosial tersebut memandang momen RUPS sebagai titik penguatan komitmen inovasi untuk menghadirkan kinerja yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. Integritas dan semangat kolaborasi dari jajaran direksi hingga karyawan menjadi kunci dalam membangun institusi yang tangguh.
"Dengan sinergi yang solid, kita optimis Bank Jatim akan semakin berperan sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi daerah, menuju Jawa Timur yang semakin maju, berdaya saing, dan berkeadilan," jelasnya.
Khofifah menambahkan bahwa institusi perbankan ini memiliki peran krusial dalam menyalurkan likuiditas dan memperkuat sektor riil sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Efektivitas kebijakan pembangunan nasional di Jawa Timur sangat bergantung pada koneksi aktivitas ekonomi masyarakat melalui sektor perbankan.
"Kita memahami bahwa Jawa Timur saat ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional. Peran Bank Jatim menjadi semakin krusial, sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam memastikan kebijakan pembangunan dapat terhubung secara nyata dengan aktivitas ekonomi masyarakat," ungkapnya.
Selain itu, penguatan pola pikir digital atau digital mindset menjadi keharusan bagi manajemen dalam mengambil keputusan agar lebih adaptif terhadap tantangan zaman yang dinamis. Bank Jatim saat ini juga menjadi induk Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan anggota terbanyak di antara Bank Pembangunan Daerah lainnya.
"Bank Jatim memiliki posisi yang sangat strategis, tidak hanya dalam konteks perbankan daerah, tetapi juga dalam mendukung arsitektur ekonomi nasional. Hal ini tercermin dari jumlah anggota KUB. Bank Jatim menaungi 5 anggota Bank KUB diantaranya NTB Syariah, NTT, Sulawesi Tenggara, Lampung dan Banten. Ini merupakan yang terbanyak diantara BPD lainnya yang menjadi induk KUB," ujarnya.
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo memaparkan strategi pengelolaan Dana Pihak Ketiga dengan memperbesar rasio dana murah serta penerbitan obligasi sebagai upaya menjaga performa bisnis. Perseroan juga menerapkan disiplin efisiensi beban untuk meningkatkan pendapatan non-bunga melalui transaksi digital.
"Kemudian untuk mendukung visi menjadi BPD Nomor 1 Di Indonesia, manajemen kembali melanjutkan journey transformasi melalui 5 pilar utama yaitu aspek tata kelola & manajemen risiko, optimalisasi bisnis berbasis ekosistem, peningkatan kompetensi manpower sebagai asset utama, kekuatan teknologi informasi dan digitalisasi proses bisnis, dan optimalisasi sinergi bisnis untuk KUB," tuturnya.
Winardi menjelaskan bahwa total aset perseroan secara konsolidasi mencapai Rp 168,85 triliun pada akhir 2025, tumbuh 42,93 persen secara tahunan. Laba bersih konsolidasi tercatat sebesar Rp 1,61 triliun, sementara laba bersih bank saja mencapai Rp 1,546 triliun yang merupakan capaian tertinggi di kategori BPD se-Indonesia.
"Atas beberapa hal yang telah Manajemen terapkan dengan didukung oleh produktivitas team yang solid termasuk melalui kolaborasi konsolidasi bersama 4 Bank Pembangunan Daerah yang tergabung dalam KUB, kinerja keuangan konsolidasi perseroan tahun 2025 cukup positif. Aset Bank Jatim tercatat berada di angka Rp 168,85 triliun atau tumbuh 42,93% (YoY)," jelasnya.
Tren positif tersebut berlanjut pada kuartal I 2026 dengan perolehan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 661 miliar, melonjak 90,41 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 39,61 persen menjadi Rp 2,35 triliun.
"Capaian itu tumbuh hingga 90,41% secara tahunan (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 347 miliar," jelasnya.
Manajemen menyatakan bahwa fondasi bisnis yang sehat di awal tahun 2026 merupakan hasil dari dedikasi karyawan dalam memberikan pelayanan optimal. Fokus pada sektor UMKM dan akselerasi digitalisasi menjadi faktor penentu kemudahan layanan bagi para nasabah.
"Pencapaian ini tidak lepas dari berbagai terobosan strategis yang dilakukan Bank Jatim untuk mengakselerasi bisnis, salah satunya melalui sinergi bersama UMKM serta digitalisasi yang memungkinkan layanan bank menjadi lebih mudah dan nyaman bagi seluruh nasabah," ungkapnya.
Hingga Maret 2026, penyaluran kredit konsolidasi menyentuh angka Rp 109,22 triliun, meningkat 40,85 persen secara tahunan. Total Dana Pihak Ketiga juga mengalami lonjakan signifikan sebesar 37,59 persen menjadi Rp 122,80 triliun.
"Bank Jatim senantiasa berkomitmen untuk secara aktif berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam memastikan berbagai program pemerintah provinsi Jawa Timur berjalan efektif dan memberikan dampak langsung kepada sektor riil serta masyarakat luas," ungkap Winardi.
Optimisme manajemen tetap tinggi untuk mempertahankan performa positif hingga akhir tahun dengan memperkuat manajemen risiko dan kualitas aset. Pada level bank saja, aset perseroan per Maret 2026 berada di posisi Rp 101,06 triliun dengan laba bersih mencapai Rp 377 miliar.
"Capaian ini merupakan hasil dari fokus perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis. Ke depan, kami akan terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta mengembangkan bisnis secara selektif dan berkelanjutan. Kami optimis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun," jelasnya.
Winardi juga menambahkan bahwa imbal hasil dividen (dividend yield) saham dengan kode BJTM mencapai 9,60 persen berdasarkan harga penutupan pada 5 Mei 2026. Hal ini menjadikan saham perseroan tetap menjadi pilihan favorit bagi masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal.
"Pembagian dividen yang selalu meningkat setiap tahunnya mampu menjadikan saham BJTM sebagai salah satu saham favorit pilihan masyarakat dalam berinvestasi. Mengacu pada pada harga penutupan di level 590 pada Selasa, 5 Mei 2026, indikasi dividen yield BJTM mencapai 9,60%," ungkapnya.
Rapat juga menetapkan perubahan nomenklatur sejumlah jabatan direksi, di antaranya Direktur Keuangan & Tresuri serta Direktur Teknologi Informasi, Digital & Operasi. Perubahan ini diikuti dengan pengangkatan pengurus baru untuk memperkuat fungsi pengawasan dan manajemen risiko perusahaan.
| Jabatan | Nama Pengurus |
|---|---|
| Komisaris Utama Independen | Adi Sulistyowati |
| Komisaris | Adhy Karyono |
| Komisaris Independen | Muhammad Mas'ud |
| Komisaris Independen | Dadang Setiabudi |
| Komisaris Independen | Asri Agung Putra |
| Calon Komisaris Independen | Moh. Nasih |
| Direktur Utama | Winardi Legowo |
| Wakil Direktur Utama | R. Arief Wicaksono |
| Direktur Ritel & Syariah | Tonny Prasetyo |
| Direktur Kepatuhan | Umi Rodiyah |
| Direktur Keuangan & Tresuri | RM Wahyukusumo Wisnubroto |
| Direktur Menengah, Korporasi, dan Kelembagaan | Arif Suhirman |
| Direktur Teknologi Informasi, Digital & Operasi | Wiweko Probojakti |
| Calon Direktur Manajemen Risiko | Andry Wicaksono |
| Ketua Dewan Pengawas Syariah | KH Afifuddin Muhajir |
| Anggota Dewan Pengawas Syariah | Tamhid Masyhudi |
| Calon Anggota Dewan Pengawas Syariah | Abdullah Syamsul Arifin |