PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp86 miliar pada kuartal pertama 2026 yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 42 persen secara tahunan. Capaian positif ini dipicu oleh ekspansi penyaluran kredit dan peningkatan basis nasabah secara signifikan hingga akhir Maret 2026.
Dilansir dari Suara, emiten perbankan ini menyalurkan kredit senilai Rp25,2 triliun atau meningkat 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp20,3 triliun. Pada sektor pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan 23 persen menjadi Rp26,4 triliun dengan komposisi seimbang antara nasabah korporasi dan digital banking.
Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk, Arief Harris Tandjung, menjelaskan bahwa hasil tersebut merupakan pencapaian luar biasa bagi perusahaan. Hal ini disampaikan dalam pertemuan di Kantor Bank Jago, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
"Kinerja kuartal pertama mengejutkan kami mengingat kondisi perekonomian Indonesia dan global yang masih tidak menentu," kata Arief, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.
Pertumbuhan nasabah menjadi pendorong utama kinerja di mana total pengguna layanan kini mencapai 19,4 juta orang. Arief menegaskan posisi perusahaan sebagai bank berbasis teknologi yang telah mapan di pasar keuangan nasional.
ÔÇ£Dengan semua performa tersebut, di usia kami yang kelima, kami menyatakan bahwa Bank Jago punya hak hidup di segmen technology-based bank,ÔÇØ tegas Arief, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.
Manajemen menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam mengelola likuiditas untuk memastikan keberlangsungan bisnis jangka panjang. Analogi kesehatan fisik digunakan untuk menggambarkan urgensi ketersediaan dana cair perusahaan.
ÔÇ£Kami sangat berhati-hati dalam menjaga likuiditas, karena ibarat jantung. Kalau sampai terkenan searagan jantung tubuh bisa langsung kolaps,ÔÇØ kata Arief, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.
Selain likuiditas, Bank Jago fokus menjaga kualitas aset dengan mempertahankan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada level rendah. Strategi terakhir yang diterapkan adalah memastikan setiap ekspansi bisnis tetap menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham.
"Jadi kami tidak akan mengorbankan profitabilitas demi mengejar pertumbuhan," tutup Arief, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.