Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi intervensi pasar valas di tengah tekanan ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah, Jumat (29/5), seperti dilansir dari Media Indonesia.
Langkah penstabilan mata uang domestik tersebut diwujudkan lewat transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
Tekanan terhadap mata uang Garuda juga dipicu oleh faktor musiman berupa tingginya permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri serta repatriasi dividen, meskipun performa rupiah pada perdagangan Jumat (29/5) pagi sempat dibuka menguat ke level Rp17.827 per dolar Amerika Serikat.
"Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Guna meredam volatilitas, bank sentral menempuh strategi penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan dalam negeri serta menarik aliran modal asing.
"Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing," jelas Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Dari sisi pengendalian permintaan, otoritas moneter menetapkan batas maksimal tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan yang mulai diimplementasikan pada Juni 2026.
Bank Indonesia juga meningkatkan sinergi bersama otoritas terkait untuk memantau bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar Amerika Serikat dalam volume tinggi demi menyokong stabilitas pasar keuangan.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," pungkas Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia.