PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) meraih laba bersih sebesar Rp410,15 miliar pada kuartal I-2026, yang menunjukkan pertumbuhan tipis 2,94 persen secara tahunan.
Pencapaian pertumbuhan laba bersih tersebut dilaporkan pada hari Minggu, 24 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Keuangan berdasarkan laporan keuangan resmi emiten berkode BJBR ini.
Laporan keuangan perseroan menunjukkan pendapatan bunga Bank BJB turun 3,91 persen menjadi Rp4,10 triliun, namun beban bunga mengalami penurunan lebih dalam sebesar 16,35 persen secara tahunan menjadi Rp2,05 triliun.
Kondisi tersebut membuat pendapatan bunga bersih perseroan melonjak 12,85 persen secara tahunan hingga mencapai Rp2,05 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.
Meskipun demikian, kualitas aset perseroan menghadapi tekanan akibat adanya kerugian penurunan nilai atau impairment sebesar Rp308,13 miliar serta penurunan nilai wajar aset keuangan senilai Rp33,67 miliar.
Di sisi lain, pendapatan berbasis komisi dan administrasi mencatatkan kenaikan dari posisi sebelumnya Rp373,84 miliar menjadi Rp413,08 miliar pada kuartal pertama ini.
Direktur Utama Bank BJB Ayi Subarna menjelaskan bahwa perolehan performa perusahaan sepanjang periode awal tahun ini merupakan hasil dari langkah efisiensi dan penguatan layanan digital secara berkelanjutan.
"Di tengah dinamika industri perbankan dan kondisi ekonomi yang berkembang, Bank BJB berupaya menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dengan tetap memperhatikan kualitas aset, likuiditas, serta kebutuhan nasabah dan pemangku kepentingan," ujar Ayi Subarna, Direktur Utama Bank BJB.
Dalam penyaluran fungsi intermediasi, kredit yang disalurkan Bank BJB turun sebesar 2,85 persen menjadi Rp141,24 triliun yang berdampak pada kenaikan rasio kredit bermasalah.
Rasio non performing loan (NPL) gross perseroan meningkat ke level 3,07 persen, sedangkan rasio NPL net bergerak naik menuju angka 1,18 persen.
Untuk penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), korporasi mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 3,94 persen menjadi Rp159,87 triliun dengan likuiditas aman pada rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 83,5 persen.
Sektor digital mencatat pertumbuhan positif dengan total pengguna DIGI Bank BJB menembus 1,87 juta nasabah hingga akhir Maret dan meraup fee based income ekosistem elektronik senilai Rp115,7 miliar.
Segmen kredit digital ASN melalui produk BJB KGB Pisan juga melonjak signifikan hingga 154,1 persen secara tahunan menjadi Rp159,8 miliar dengan total kepemilikan rekening mencapai 9,702 rekening.
Pihak manajemen berkomitmen memanfaatkan digitalisasi ini sebagai fondasi utama peningkatan operasional dan kerja sama dengan bank daerah terafiliasi.
"Perusahaan akan terus berupaya menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan melalui penguatan layanan, inovasi digital, serta sinergi dalam ekosistem Kelompok Usaha Bank (KUB) Bank BJB," kata Ayi Subarna, Direktur Utama Bank BJB.
Selain transformasi teknologi, perseroan mengumumkan portofolio pembiayaan keberlanjutan berbasis ESG sudah menyentuh Rp14,2 triliun yang diperkuat dengan instrumen sustainable bond senilai Rp1,9 triliun.
Komitmen jangka panjang tersebut dilanjutkan manajemen melalui penyaluran pembiayaan untuk sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM), Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).