Ribuan makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper serta pemukiman warga di kawasan Semper Barat, Jakarta Utara, terendam banjir setinggi 70 sentimeter pada Selasa (20/1/2026). Dilansir dari Megapolitan, kondisi ini memaksa warga mengungsi berulang kali akibat luapan air yang tak kunjung surut sejak awal tahun.
Intensitas hujan yang tinggi pada Januari 2026 memperparah genangan di wilayah yang berbatasan langsung dengan area empang dan depo kontainer tersebut. Selain merusak perabotan rumah tangga, bencana ini melumpuhkan aktivitas ekonomi warga dan menghambat akses pendidikan anak-anak di sekitar lokasi.
Masria, warga Semper Barat, mengungkapkan bahwa rumahnya terendam hingga ketinggian paha orang dewasa karena posisi bangunan yang berdekatan dengan area penampungan air.
ÔÇ£Parah, (banjirnya) segini sekitar 70 cm. Rumah saya di dekat empang jadi kan namanya kita di empang ya, air kan ke sana semua gitu,ÔÇØ ujar Masria, warga Semper Barat.
Ia menceritakan bahwa keluarganya sempat kembali ke rumah setelah banjir pertama mereda pada pertengahan Januari, namun air kembali masuk dalam hitungan hari.
ÔÇ£Habis itu baru pulang hari Rabu. Hari Minggu banjir lagi, masuk lagi ke sini. Balik lagi,ÔÇØ kata Masria.
Kondisi serupa terjadi di area pemakaman yang kini menyerupai kolam besar akibat genangan air berwarna kehijauan dan tumpukan eceng gondok. Pengelola TPU Semper mencatat ribuan petak makam terdampak oleh luapan air ini.
ÔÇ£Sekitar 4.000-an makam, khusus di blad itu saja yang tergenang,ÔÇØ ujar Sukino, Pengelola TPU Semper.
Sukino menjelaskan bahwa posisi lahan makam yang lebih rendah satu meter dari permukaan jalan raya menjadi penyebab utama air sulit mengalir keluar. Meskipun rencana pengerukan sudah disosialisasikan sejak 2023, upaya penanganan hingga saat ini masih mengandalkan pompa air manual.
Persoalan drainase juga dikeluhkan warga Semper Timur yang menilai normalisasi saluran air di wilayah mereka belum dilakukan secara menyeluruh. Ketua RW setempat menyebutkan terdapat titik penyumbatan yang membuat aliran air hanya berputar di kawasan tertentu.
ÔÇ£Yang belakang sudah dikeruk dan dampaknya bagus. Tapi bagian depan belum dikerjakan,ÔÇØ ujar Mamat, Ketua RW 03 Semper Timur.
Hambatan tersebut berlokasi di area Jalan Madya Kebantenan yang bersinggungan dengan kawasan industri dan penyimpanan peti kemas.
ÔÇ£Airnya ketemu di satu titik lalu muter saja, tidak langsung keluar,ÔÇØ kata Mamat.
Pengamat tata kota menyoroti masifnya pembangunan depo kontainer di sekitar TPU Semper sebagai faktor yang menghilangkan area resapan air. Hal ini menyebabkan limpasan air hujan langsung menuju titik terendah, yakni lahan pemakaman.
ÔÇ£Betul, sekitarnya meninggikan terus dan depo kontainer itu sama sekali tidak ada penyerapan air,ÔÇØ kata Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies.
Elisa memberikan penegasan bahwa lokasi pemakaman tersebut sering kali terabaikan dalam skala prioritas penanganan banjir pemerintah daerah.
ÔÇ£TPU tidak dianggap ÔÇÿstrategisÔÇÖ oleh DKI, jadi tidak ada perlindungan ekstra,ÔÇØ ujar Elisa.
Hingga Kamis (9/4/2026), genangan air masih menutupi deretan nisan di sisi timur TPU Semper sementara warga masih menunggu realisasi pembangunan sistem polder permanen.