Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperingatkan masyarakat mengenai risiko kesehatan di balik konsumsi minuman berlabel zero sugar yang menggunakan pemanis buatan pada Minggu (26/4/2026). Melalui unggahan di media sosial pribadinya, ia menyoroti potensi gangguan metabolisme tubuh.
Penggunaan zat seperti aspartam, sukralosa, dan sakarin menjadi alasan mengapa minuman tanpa gula tambahan tetap memiliki rasa manis yang kuat. Sebagaimana dilansir dari Lifestyle, kandungan kimia ini memiliki tingkat kemanisan yang jauh melampaui gula pasir alami pada umumnya.
"Sejumput kecil saja bisa memberikan rasa manis berkali-kali lipat lebih manis daripada gula pasir biasa," ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Budi menjelaskan bahwa meskipun produk tersebut tidak mengandung kalori dari gula, lidah tetap mengirimkan sinyal manis ke otak. Hal ini memicu respons tubuh yang mengharapkan asupan energi, namun tidak mendapatkan asupan yang dijanjikan sehingga berdampak pada nafsu makan.
"Ternyata gulanya nggak masuk-masuk ke perut. Akibatnya, rasa laparnya keluar terus," jelas Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Respon biologis ini justru dapat meningkatkan keinginan seseorang untuk mencari asupan gula dari sumber lain secara berlebihan. Fenomena ini diibaratkan Menkes sebagai bentuk penipuan terhadap persepsi rasa pada tubuh manusia.
"Kalau ada minuman yang kadar gulanya rendah atau katanya zero sugar tetapi memakai pemanis buatan, akan langsung saya label C atau D," ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Pemberian label tersebut merujuk pada kategorisasi keamanan pangan berdasarkan kandungan zat di dalamnya. Ia menekankan agar publik tidak mudah tergiur oleh klaim kesehatan pada label kemasan tanpa memahami komposisi bahan tambahan pangan yang digunakan produsen.