Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mendesak pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh terhadap manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyusul kecelakaan maut di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026). Insiden yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut dinilai mencerminkan lemahnya standar keselamatan operasional.
Kecelakaan terjadi saat KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi pukul 20.52 WIB. Berdasarkan laporan Megapolitan, peristiwa di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 ini mengakibatkan 16 penumpang perempuan tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Azas Tigor Nainggolan menegaskan bahwa pemerintah memegang tanggung jawab penuh atas tragedi ini melalui evaluasi struktur pimpinan operator kereta api. Ia mendorong penggantian personel manajemen dengan individu yang lebih kompeten untuk menjamin keamanan publik.
"Pemerintah harus tanggung jawab atas kejadian ini. Apa tanggung jawabnya? Lakukan audit, ya ganti manajemen PT Kereta Api Indonesia oleh figur-figur yang profesional dan berintegritas," ujar Azas Tigor Nainggolan, Pengamat Transportasi.
Langkah audit tersebut dipandang krusial guna memastikan seluruh layanan perkeretaapian nasional selaras dengan mandat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007. Peraturan tersebut mewajibkan penyelenggara mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, serta kenyamanan bagi seluruh pengguna jasa.
"Yang terpenting adalah layanan kereta itu sesuai dengan undang-undang," kata Azas Tigor Nainggolan, Pengamat Transportasi.
Selain masalah kepatuhan hukum, Azas menyoroti adanya indikasi kelalaian sistemik dalam prosedur operasional harian yang memicu tabrakan tersebut. Transformasi kualitas sumber daya manusia pada level strategis dianggap menjadi solusi mutlak untuk pembenahan organisasi.
"Sudah seharusnya untuk memperbaiki maka mereka semua diganti oleh figur yang profesional dan berintegritas," ucap Azas Tigor Nainggolan, Pengamat Transportasi.
Seluruh korban luka saat ini masih menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella, RS Primaya, hingga RS Siloam Bekasi Timur. Sementara itu, 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan berhasil selamat tanpa cedera dalam insiden tersebut.