Mimpi Buruk Akibat Stres Bisa Diatasi dengan Langkah Ini

Mimpi Buruk Akibat Stres Bisa Diatasi dengan Langkah Ini
Foto: Ilustrasi Mimpi Buruk Akibat Stres Bisa Diatasi dengan Langkah Ini.

Rasa cemas dan gelisah setelah terbangun dari mimpi buruk kerap dialami banyak orang akibat tekanan emosional. Fenomena ini dikenal sebagai stress dreams atau mimpi yang dipicu oleh stres yang belum terselesaikan di siang hari.

Kondisi ini merupakan sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang berupaya memproses emosi negatif, seperti dilansir dari Lifestyle.

Menurut psikolog klinis berlisensi Dr. Naomi Torres-Mackie, mimpi karena stres muncul akibat emosi yang belum diproses dengan baik.

"Pada dasarnya, mimpi ini berasal dari emosi yang belum diproses. Jika kita tidak mencerna emosi penuh tekanan di siang hari, kita akan mendapatkan mimpi yang mengganggu di malam hari," jelasnya, seperti dilansir Seventeen, Sabtu (16/5/2026).

Psikolog klinis Dr. Lauren Kerwin menambahkan, sebagian besar mimpi terjadi saat fase tidur REM (rapid-eye movement), yaitu saat otak sangat aktif memproses pengalaman dan tekanan sepanjang hari.

"Selama tidur REM, otak mengalami aktivitas intens. Ini adalah waktu ketika otak memproses seluruh stres yang dialami sepanjang hari," katanya.

Tekanan dari pekerjaan, konflik dengan pasangan, beban akademik, kecemasan finansial, hingga kekhawatiran terhadap masa depan bisa terbawa ke alam bawah sadar. Mengatasinya memerlukan pengelolaan sumber stres di kehidupan nyata dan menjaga kesehatan emosional saat terjaga.

"Mengelola kesehatan emosional untuk menurunkan tingkat stres adalah salah satu cara efektif untuk meredakan mimpi stres," ujar Dr. Torres-Mackie.

Langkah pertama adalah meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran melalui meditasi, journaling, yoga, atau mendengarkan musik yang menenangkan. Aktivitas ini memberi ruang bagi pikiran untuk memproses emosi sebelum tidur sehingga kualitas tidur membaik.

Langkah berikutnya adalah tidak menumpuk beban pikiran. Kebiasaan mengekspresikan emosi melalui percakapan, menulis jurnal, atau refleksi diri penting dilakukan agar pikiran tidak menumpuk dan terbawa ke dalam mimpi.

Penerapan kebiasaan tidur yang sehat atau sleep hygiene juga sangat berpengaruh pada kualitas mimpi. Dr. Kerwin menekankan pentingnya menciptakan kondisi tidur yang mendukung relaksasi.

"Pastikan kamu tidak mengonsumsi kafein atau stimulan lain pada sore hingga malam hari," sarannya.

Konsumsi kopi, teh, minuman energi, atau soda menjelang malam harus dihindari karena membuat otak tetap aktif lebih lama. Selain itu, ciptakan kamar tidur yang nyaman dalam kondisi tenang, sejuk, dan minim cahaya.

Paparan gawai juga wajib dibatasi karena cahaya biru dari ponsel mengganggu produksi melatonin. Penggunaan gadget sebaiknya dihentikan setidaknya 30 menit sebelum tidur.

Metode lain yang direkomendasikan ahli adalah mengolah alur mimpi dengan teknik visualisasi lewat Imagery Rehearsal Therapy. Teknik ini dilakukan dengan mengubah akhir dari mimpi yang mengganggu menjadi lebih positif.

Dr. Kerwin menjelaskan, seseorang bisa menuliskan detail mimpi, lalu menciptakan akhir yang lebih positif.

"Buat akhir alternatif sebelum hal buruk terjadi dalam mimpi," jelasnya.

Sebagai contoh, jika sering bermimpi terlambat datang ke rapat penting, alur cerita dapat diubah menjadi datang tepat waktu dan percaya diri. Latihan visualisasi rutin ini membantu otak membangun pola baru sehingga frekuensi mimpi stres berkurang.

Artikel terkait

Rekomendasi