Astra International Targetkan Kenaikan Shareholder Return Lewat Fokus Tiga Portofolio

Astra International Targetkan Kenaikan Shareholder Return Lewat Fokus Tiga Portofolio
Foto: Ilustrasi Astra International Targetkan Kenaikan Shareholder Return Lewat Fokus Tiga Portofolio.

PT Astra International Tbk (ASII) kini mengarahkan fokus bisnisnya pada sektor-sektor yang mampu menghasilkan imbal hasil lebih tajam dengan tetap mempertahankan strategi diversifikasi. Langkah strategis ini diambil demi mengejar target total shareholder return (TSR) yang lebih tinggi bagi para pemegang saham.

Emiten berkode saham ASII ini berupaya memfokuskan lini bisnisnya di sektor otomotif, jasa keuangan, serta alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (HEMCE). Di sisi lain, sektor infrastruktur dan kesehatan akan tetap dipertahankan sebagai bagian dari portofolio pertumbuhan jangka panjang perusahaan, seperti dikutip dari Investor Daily pada Selasa (26/5/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Sabela Nur Amalina memaparkan hasil riset mereka mengenai arah kebijakan baru ini. Strategi korporasi tersebut dinilai sebagai pergeseran pendekatan dari perusahaan induk yang sangat terdiversifikasi menuju pengelolaan portofolio yang lebih fokus dan berorientasi pada hasil.

"Kami melihat potensi ekspansi pertumbuhan dalam jangka waktu dekat berasal dari bisnis suku cadang/komponen otomotif, serta diversifikasi bisnis PT United Tractors Tbk (UNTR) menuju batu bara metalurgi," tulis Erindra Krisnawan dan Sabela Nur Amalina dalam risetnya.

Tiga lini bisnis utama yang menjadi pilar Astra, yaitu otomotif, jasa keuangan, dan HEMCE, tercatat memberikan kontribusi hingga mencapai 90% terhadap total laba bersih perusahaan.

"Arah ini cukup tepat karena memperkuat keunggulan inti ASII sambil tetap mempertahankan manfaat diversifikasi, terutama di tengah kondisi ekonomi makro dan harga komoditas yang masih tidak pasti," jelas Erindra.

Meskipun demikian, BRI Danareksa Sekuritas menggarisbawahi bahwa peninjauan strategis ini bukan merupakan perubahan radikal dari arah bisnis Astra sebelumnya. Prioritas pengembangan jangka pendek tetap diarahkan pada lini bisnis yang telah memiliki keunggulan kompetitif di pasar.

Pada sektor otomotif, perluasan usaha tidak hanya mengandalkan penjualan kendaraan baru saja, melainkan akan dioptimalkan melalui penguatan layanan purna jual, penyediaan suku cadang, bisnis mobil bekas, hingga pengembangan platform tukar tambah.

Astra juga membuka peluang untuk melakukan akuisisi tambahan pada bisnis komponen dan suku cadang. Langkah ekspansi ini diperkirakan bakal membawa dampak positif bagi anak usahanya, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).

Pada segmen HEMCE, manajemen menekankan pentingnya diversifikasi operasional. Target perluasan bisnis difokuskan pada komoditas emas serta batu bara metalurgi atau coking coal.

Astra juga berencana mempercepat program penanaman ulang di sektor agribisnis melalui PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Target replanting ditingkatkan menjadi 8.000 hektare dari target sebelumnya yang sebesar 4.000 hektare pada tahun 2025. Perusahaan juga mempertimbangkan opsi monetisasi untuk lahan operasional yang kinerjanya dinilai kurang optimal.

"Kami menilai langkah-langkah tersebut konsisten dengan pendekatan pengelolaan portofolio ASII yang kini lebih aktif dan disiplin," sebut Erindra.

Terkait keuntungan pemegang saham, manajemen menargetkan total shareholder return yang mencakup kombinasi kenaikan harga saham dan pembagian dividen berada pada kisaran belasan persen rendah.

"Target TSR ASII di kisaran belasan persen rendah merupakan sinyal positif bagi pemegang saham, terutama dibandingkan rata-rata imbal hasil tahunan selama 10 tahun terakhir yang hanya sekitar 6%," ungkap Erindra.

Target pencapaian keuntungan tersebut didukung oleh kebijakan rasio pembayaran dividen sebesar 45% sampai 50%. Selain itu, perusahaan merencanakan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham senilai Rp 8 triliun yang akan dieksekusi dalam periode 12 bulan ke depan.

Melihat perkembangan strategi ini, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ASII dengan target harga sebesar Rp 6.850 per saham. Penentuan target harga tersebut dihitung menggunakan metode sum of the parts.

Saat ini, tingkat valuasi saham Astra dinilai masih cukup atraktif dengan rasio forward price to earnings sebesar 7,2 kali yang ditopang oleh diversifikasi sumber pendapatan. Namun, investor tetap perlu memperhatikan faktor risiko seperti pelemahan nilai tukar rupiah serta potensi penurunan daya beli masyarakat.

Artikel terkait

Rekomendasi