PT Astra International Tbk (ASII) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp 36 triliun pada tahun 2026 sebagai upaya penguatan operasional perusahaan. Keputusan kenaikan anggaran sekitar 10 persen ini disampaikan dalam konferensi pers di Menara Astra, Jakarta, pada Kamis (23/4/2026).
Peningkatan anggaran tersebut mengikuti tren realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 32 triliun, mencakup investasi di berbagai lini bisnis. Dilansir dari Detik Finance, sektor alat berat dan pertambangan menjadi fokus utama penyerapan dana pada periode lalu.
Hsu Hai Yeh selaku Direktur Astra menjelaskan bahwa alokasi dana jumbo pada tahun lalu memang diprioritaskan untuk mendukung lini bisnis alat berat. Penjelasan ini disampaikan saat memberikan keterangan resmi mengenai arah kebijakan finansial korporasi.
"Pada tahun 2025 Astra telah merealisasikan capex, termasuk investasi sebesar Rp 32 triliun. Dengan porsi terbesar dialokasikan pada bisnis alat berat dan pertambangan," ujarnya Hsu Hai Yeh, Direktur Astra.
Mengenai rencana kerja tahun berjalan, manajemen menekankan pentingnya menjaga reliabilitas aset operasional melalui anggaran pemeliharaan yang memadai. Meski demikian, peluang pertumbuhan anorganik melalui investasi baru tetap menjadi pertimbangan strategis manajemen.
"Pada tahun 2026, kami berencana untuk meningkatkan alokasi investasi sekitar 10%, menjadi sekitar Rp 36 triliun. Sebagian besar akan dialokasikan untuk maintenance capex. Namun kami juga akan terus berinvestasi pada sektor-sektor strategis dengan mempertimbangkan kondisi operasional dan ekonomi dan peluang yang ada," imbuhnya Hsu Hai Yeh, Direktur Astra.
Di sisi lain, sektor otomotif tetap menjadi perhatian serius mengingat persaingan kendaraan listrik asal China yang semakin kompetitif di pasar domestik. Astra mencatat bahwa kendaraan bermesin konvensional saat ini masih memegang dominasi besar sebesar 75 persen di Indonesia.
Direktur Astra International, Gidion Hasan, menegaskan komitmen perusahaan dalam mempertahankan penguasaan pasar di atas level 50 persen. Strategi yang dijalankan mencakup penyediaan produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen serta optimalisasi ekosistem layanan purna jual dan pembiayaan.
"Dengan strategi ini kami berharap kami bisa menjaga market share kami di sekitaran kurang lebih 50%," pungkas Gidion Hasan, Direktur Astra International.