Aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing kembali marak di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (20/5/2026). Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi buruan utama para pemodal internasional.
Seperti dikutip dari Investor Daily, total nilai beli bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp 249,2 miliar. Berdasarkan data BEI, akumulasi tersebut membuat total transaksi jual bersih (net sell) asing sepanjang tahun berjalan menyusut menjadi Rp 40,7 triliun.
Pada pasar reguler, aliran dana asing paling besar mengalir ke saham BUMI dengan nilai mencapai Rp 223,4 miliar. Posisi kedua ditempati oleh saham BMRI yang mencatatkan net buy asing sebesar Rp 217,7 miliar, diikuti saham ADRO senilai Rp 111,3 miliar.
Sebaliknya, tekanan jual melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell asing tertinggi sebesar Rp 375,7 miliar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga dilepas asing masing-masing senilai Rp 221 miliar dan Rp 140,5 miliar.
Di tengah aksi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 52,18 poin atau 0,8% ke posisi 6.318,5. Sebanyak 510 saham bergerak turun, 217 saham mengalami kenaikan, dan 232 saham stagnan dengan total transaksi Rp 21,9 triliun.
Koreksi pasar ini diiringi kejatuhan mayoritas sektor saham, dipimpin sektor barang baku sebesar 4,6% dan sektor transportasi 4,2%. Hanya sektor keuangan dan sektor infrastruktur yang bertahan di zona hijau dengan penguatan masing-masing 1,2% dan 0,05%.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai sentimen global dipengaruhi oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran inflasi dari konflik AS-Iran. Kondisi ini memicu ekspektasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga kembali sebelum akhir tahun.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada tekanan nilai tukar rupiah serta sikap hati-hati menjelang voting pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) telah mengantisipasi dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis points menjadi 5,25%.
Pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR yang menegaskan pembentukan BUMN Khusus Ekspor. Melalui badan baru ini, penjualan seluruh komoditas sumber daya alam Indonesia nantinya diwajibkan berjalan satu pintu.