Asing Net Sell Rp8,52 Triliun, Ini 10 Saham Paling Banyak Dilego 2026

Asing Net Sell Rp8,52 Triliun, Ini 10 Saham Paling Banyak Dilego 2026
Foto: Asing Net Sell Rp8,52 Triliun, Ini 10 Saham Paling Banyak Dilego 2026. (Illustration by Pexels)

Investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai yang sangat fantastis pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Berdasarkan data terbaru dari Stockbit, total nilai transaksi jual bersih oleh investor luar negeri di pasar saham Indonesia mencapai Rp8,52 triliun.

Secara lebih mendalam, pelepasan aset tersebut didominasi oleh transaksi di pasar reguler yang menyentuh angka Rp8,36 triliun. Sementara itu, sisanya sebesar Rp160 miliar tercatat berasal dari transaksi di pasar negosiasi dan pasar tunai.

Daftar Saham yang Menjadi Sasaran Jual Asing

Tekanan jual yang masif ini paling terasa pada sektor perbankan kelas kakap serta sejumlah emiten yang dimiliki oleh konglomerat besar. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menempati posisi teratas sebagai saham yang paling banyak dilepas dengan nilai mencapai Rp1,96 triliun.

Posisi kedua ditempati oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) milik konglomerat Prajogo Pangestu dengan nilai penjualan asing mencapai Rp1,94 triliun. Sebagian besar bank berkapitalisasi pasar besar (big caps) memang tertekan cukup dalam hingga berakhir di zona merah.

Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai jual bersih asing terbesar pada perdagangan hari ini:

  • PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA): Rp1,96 triliun
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA): Rp1,94 triliun
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN): Rp1,61 triliun
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI): Rp738 miliar
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI): Rp390 miliar
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT): Rp364,68 miliar
  • PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM): Rp263 miliar
  • PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN): Rp254 miliar
  • PT Barito Pacific Tbk. (BRPT): Rp201 miliar
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA): Rp173 miliar

Data di atas memperlihatkan bahwa aksi jual tidak hanya melanda sektor perbankan, tetapi juga merambah ke sektor pertambangan, ritel, hingga energi terbarukan.

Penyebab Utama Aksi Jual Masif Investor Asing

Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menilai bahwa koreksi yang terjadi pada saham perbankan besar lebih dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking). Hal ini wajar terjadi setelah harga saham perbankan sempat mengalami penguatan yang signifikan pada beberapa hari sebelumnya.

Menurutnya, para pelaku pasar cenderung mengamankan keuntungan mereka menjelang akhir pekan. Selain itu, kondisi pasar global yang masih belum menentu turut memengaruhi tingkat kepercayaan investor asing untuk tetap bertahan.

Beberapa faktor eksternal yang memengaruhi sentimen pasar saat ini meliputi:

  • Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
  • Fluktuasi pergerakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat yang cukup dinamis.
  • Melemahnya nilai tukar rupiah yang memicu investor asing menjadi lebih waspada dan berhati-hati.

Faktor-faktor tersebut membuat selera risiko (risk appetite) investor asing cenderung menurun sehingga mereka memilih untuk menarik modal keluar untuk sementara waktu.

Prospek Sektor Perbankan Masih Solid

Meskipun terjadi perpindahan arus modal atau rotasi dana ke saham-saham siklikal dan konglomerasi, fundamental perbankan dianggap masih sangat kokoh. Elandry menekankan bahwa likuiditas dan kualitas aset bank-bank besar di Indonesia sejauh ini masih dalam kondisi yang stabil.

Ia berpendapat bahwa penurunan harga saham saat ini lebih merupakan bentuk konsolidasi yang sehat, bukan sebuah perubahan tren besar. Bagi investor jangka menengah dan panjang, situasi ini justru dipandang sebagai dinamika pasar yang lumrah terjadi tanpa merusak prospek pertumbuhan ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi